Breaking News

Memetik Pelajaran Senyum dari Sahib Sejawat


Kamis, 29 April 2018 | 17:05 CLT

Curhatan Netizen
Oleh Muh. Thoriq Aziz Kusuma
Aku dan sahib sejawatku di Rumah Makan Mie Aceh, Nasr City, Cairo (29/4/2018) sore.

Perantara Nasional, Kairo – Sejak pertengahan 2007 saat tes ujian masuk Sekolah Menengah Atas, ku berjumpa dengannya hingga detik ini. Satu hal terpuji nan agung yang selalu melekat pada dirinya ialah ia selalu hadir menyapa siapapun dengan senyum manisnya.

Ku amati selalu ia memiliki banyak teman dan kolega. Tak jarang teman-temannya amat sangat perhatian kepadanya, tak terkecuali aku.

Ku pikir awal benih ramainya orang menaruh perhatian, suka dan cinta kepadanya karena ia memulai interaksi sosialnya dengan senyum manisnya.

Ku belajar darinya bahwa tersenyum adalah langkah awal menebar cinta. Dan cintalah yang  membuat orang tersenyum. Cinta menciptakan kebahagiaan dalam diri manusia.

Pun aku bukan penyair, namun ku hobi bersyair dalam dendangan dan pola (wazan) berbahasa Arab. Dalam bait syairku, ku berkata:

الحب يغني ويشفي قلب راعيه # لا صار كل المبغض ماله معاني

“Cinta kasih akan mendatangkan kekayaan serta menjadi obat hati dan jiwa bagi siapa yang melanggengkan/menebar cinta. Sedangkan bagi siapa yang menebar kebencian, maka segala langkahnya tak memiliki arti (kemanfaatan) sama sekali.”

Kebahagiaan, kedamaian, ketenangan dan keselamatan itu dimulai dari menebar senyum. Sabda Nabi, Saw.,  :

ﺇﻧﻜﻢ ﻟﻦ ﺗﺴﻌﻮﺍ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﺄﻣﻮﺍﻟﻜﻢ ﻓﻠﻴﺴﻌﻬﻢ ﻣﻨﻜﻢ ﺑﺴﻂ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻭﺣﺴﻦ ﺍﻟﺨﻠﻖ ‏

“Sesungguhnya kamu semua tidak akan mampu sepenuhnya melapangkan (membahagiakan) manusia dengan harta-hartamu, maka lapangkanlah (bahagiakanlah) mereka dengan keluasan wajah (senyuman) dan budi pekertinya yang baik”

Tebarkan senyum kepada orang-orang di sekeliling kita, utamanya keluarga dan orang-orang yang amat sangat kita cintai.

Pertemanan, persaudaraan dan persabahatan adalah janabijana kecil, rumpun belahan keluarga yang hanya dirasakan oleh mereka yang punya teman dan mau berteman.

Sahibku, maaf jika ku sering merepotkanmu. Mungkin aku belum bisa membalas segala budi baikmu padaku. Semoga Tuhan memberkatimu selalu.

© Copyright 2022 - Berinteraksi dalam Keberagaman