Breaking News

Keutamaan Sedekah di Musim Corona

Oleh Muh. Thoriq Aziz Kusuma

Keutamaan Sedekah di Musim Corona

Perantara Nasional, — Sesungguhnya sedekah di masa krisis Corona merupakan amalan sedekah yang paling agung, dan membantu orang-orang yang membutuhkan di musim wabah Corona merupakan wājib al-yaum, sebuah kewajiban saat ini.

Semua orang diseluruh dunia, tanpa terkecuali, menyaksikan munculnya pandemi virus Corona jenis baru dan membawa dampak ekonomi bagi semua orang baik di level bawah maupun atas. Utamanya mereka yang miskin, berpenghasilan terbatas dan pemilik usaha bisnis kecil-kecilan serta mereka yang tidak memiliki penghasilan permanen, sangat merasakan beratnya ketersandungan hidup di musim pandemi ini.

Sebuah kewajiban saat ini dalam krisis pandemi Corona adalah  memeriksa masing-masing dari kita, mengunjungi dan meninjau kondisi keluarga, kenalan, tetangga dan pekerja atau anak buah kita, kemudian untuk kita beri bantuan kepada mereka baik berupa uang dan makanan sebatas kemampuan kita. Karena pahala sedekah sangatlah agung, terlebih di musim Corona ini akan lebih agung lagi.

Dalam Shahīh Muslim, kitab Zakat, nomor hadis 1713 mengenai sedekah yang paling utama adalah saat kaya dan pelit.

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ فَقَالَ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى وَلَا تُمْهِلَ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلَانٍ كَذَا وَلِفُلَانٍ كَذَا أَلَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarīr dari 'Umārah bin Al-Qa'qa' dari Abu Zur'ah dari Abu Hurairah ia berkata; Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah, Saw., dan bertanya, "Wahai Rasulullah, sedekah yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?" maka beliau pun menjawab: "Yaitu kamu bersedekah saat sehat, kikir, takut miskin dan kamu berangan-angan untuk menjadi hartawan yang kaya raya. Dan janganlah kamu lalai hingga nyawamu sampai di tenggorokan dan barulah kamu bagi-bagikan sedekahmu, ini untuk si Fulan dan ini untuk Fulan. Dan ingatlah, bahwa harta itu memang untuk si Fulan."

Umumnya manusia di saat dirinya sehat, ia akan sulit sekali mengeluarkan sebagian hartanya untuk disedekahkan, karena ia menginginkan stable condition, keadaan hartanya tidak berkurang dan stabil, dan juga takut miskin. 


Oleh sebab itu, adalah sangat dianjurkan mengeluarkan sebagian harta untuk disedekahkan di saat-saat tersebut dan sedekahnya menjadi sedekah yang paling utama (afḍal).

Akan halnya di saat kondisi sakit, seseorang akan lebih tanggap dan sensitif terhadap akhirat dan the world does not exist anything, dunia terasa tidak ada apa-apa, sehingga sangat mudah untuk mengeluarkan sedekah, berbeda halnya di saat kondisi sehat, setan lebih menang untuk menakut-nakuti manusia akan tertimpa kemiskinan.

Lalu, janganlah menunda-nunda untuk bersedekah sampai ajal menjemput, karena akan sia-sia belaka, sama halnya dengan memberikan harta kepada orang yang sudah berkecukupan, percuma.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan persahabatan dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Baqarah: 254)

وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقْنَٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

"Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" (QS. Al-Munafiqun: 10)

Mengunjungi dan meninjau kondisi keluarga, pekerja atau anak buah kita, serta tetangga merupakan dari kesempurnaan iman.

مَا آمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانً وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمْ بِهِ

“Tidak mengimaniku dengan sempurna orang yang bermalam dalam kondisi kenyang, sementara tetangganya kelaparan di sisinya dan ia mengetahuinya.” (HR Al-Thabarani dan Al-Bazzar).

Ibnu Abbas, Ra.,  juga menuturkan bahwa Nabi, Saw., bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ

“Bukanlah Mukmin sempurna orang yang kenyang, sementara tetangganya kelaparan.” (HR Al-Bukhari, Abu Ya’la, Al-Thabarani, Al-Hakim dan Al-Baihaqi).


Sebuah kewajiban dan perintah kepada sanak kerabat yang hidupnya berlebih untuk menanggung saudaranya yang tidak mampu, bahkan tetangga yang tidak mampu menjadi tanggung jawabnya untuk membantu.

Amalan sedekah dalam kondisi seperti ini dapat menjadi penolak bala, penyingkap bahaya dan memperluas rezeki.

ابْغُونِي الضُّعَفَاءَ فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ

“Carikan untukku orang-orang yang lemah, karena sesungguhnya kalian diberi rezeki dan ditolong (dimenangkan) dengan sebab orang-orang yang lemah (di antara) kalian”. (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Al-Nasai, Ahmad dan lain-lain)

Sedekah juga merupakan sebab mendapat keridaan Allah,Swt., sebab turunnya rahmatNya, dan menjaga hamba dari kemalangan bala, penyakit dan segala penghabisan.

صَنَائِعُ الْمَعْرُوفِ تَقِي مَصَارِعَ السَّوْءِ ، وَالصَّدَقَةُ خَفِيًّا تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ

“Perbuatan kebaikan menahan kejadian buruk dan sedekah yang tersembunyi (dilakukan secara diam-diam) memadamkan kemurkaan Rabb." (HR. Al-Thabrani)

Sedekah memiliki efek yang menakjubkan di dalam menolak segala macam kemalangan, musibah dan pagebluk. 

Sebagaimana wasiat Nabi Yahya, As., untuk Bani Israel,

وَآمُرُكُمْ بِالصَّدَقَةِ فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَسَرَهُ الْعَدُوُّ فَأَوْثَقُوا يَدَهُ إِلَى عُنُقِهِ وَقَدَّمُوهُ لِيَضْرِبُوا عُنُقَهُ فَقَالَ أَنَا أَفْدِيهِ مِنْكُمْ بِالْقَلِيلِ وَالْكَثِيرِ فَفَدَى نَفْسَهُ مِنْهُمْ

“Dan Aku memerintah kalian untuk bersedekah, seperti perumpamaan seorang yang ditawan musuhnya, lalu tangannya di ikat di lehernya, kemudian ia dibawa untuk dipenggal lehernya, lalu ia berkata : saya mau menebus diriku dengan tebusan yang berjumlah sedikit dan banyak. Akhirnya ia berhasil menebus dirinya dari mereka” (Shahīh Al-Jāmi’).

Sejatinya seorang hamba tidak akan sampai kepada hakikat kebajikan melainkan dengan jalan sedekah.

Firman Allah, Swt., dalam QS. Ali 'Imran 3: Ayat 92 :

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah Maha mengetahui."

© Copyright 2022 - Berinteraksi dalam Keberagaman