Breaking News

Terbebas dari Belenggu Firaun


Oleh Muh. Thoriq Aziz Kusuma
Firaun dikenal sebagai politisi ulung yang ahli mengubah narasi untuk menjatuhkan lawan-lawannya.

Terbebas dari Belenggu Firaun

Perantara Nasional
 — Adalah diantara prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan Al-Quran, untuk membebaskan umat dan bangsa dari belenggu kekuasaan Firaun dan orang-orang yang kejam.

Al-Quran menghendaki agar manusia mengangkat dahi mereka dan tidak bersujud kecuali kepada Allah, Swt., Zat yang menciptakan mereka. Demikian juga Al-Quran menghendaki agar manusia mengangkat kepala mereka dan tidak tunduk kecuali kepada Allah, Swt., Tuhan yang Maha Suci lagi Tinggi.

Tidak ada Namrūz atau Firaun yang memimpin umat dan bangsa ini. Namun mereka dipimpim oleh seseorang dari mereka yang dipilih secara bebas dan adil. Mereka dapat mengawasi dan mengkoreksi pemimpin mereka, bahkan mereka dapat memakzulkannya jika seorang pemimpin itu menyimpang dari amanat dan tanggung jawabnya.

Sebagai mana yang dikatakan oleh Khulafaurrasyidīn Pertama Abu Bakar, Ra., dalam awal khutbahnya usai pelantikannya menjadi khalifa.

يا أيُّها الناس، قد وُلِّيت عليكم ولست بخيركم، فإن رأيتموني على حقٍّ فأعينوني، وإن رأيتموني على باطل فسدِّدوني. أطيعوني ما أطعتُ الله فيكم، فإذا عصيتُه فلا طاعة لي عليكم. ألا إنَّ أقواكم عندي الضعيف حتى آخذ الحقَّ له، وأضعفكم عندي القويُّ حتى آخذ الحقَّ منه. أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku sekarang telah memimpin kalian, namun aku bukanlah yang terbaik diantara kalian, jika kalian melihatku berjalan di atas kebenaran maka bantulah aku, sedangkan jika kalian melihatku di atas kebatilan maka luruskanlah langkahku, taatilah aku selama aku mentaati Allah, dan apabila aku melakukan sebuah kemaksiatan maka kalian tidak boleh taat terhadapku akan hal itu. Ketahuilah, bahwasanya orang yang paling kuat diantara kalian di mataku adalah orang yang lemah hingga ia memperoleh haknya, sebaliknya orang yang terlemah di mataku adalah orang yang kalian anggap paling kuat hingga ia mengembalikan hak-hak orang lain. Demikianlah apa yang aku sampaikan kepada kalian seraya memohon ampun atas diriku dan kalian semua kepada Allah.”


Firaun dikenal sebagai politisi ulung yang ahli mengubah narasi untuk menjatuhkan lawan-lawannya. Paling tidak ada dua sisi kelihaian dan kelicikan Firaun. Pertama, merangkai narasi untuk menuduh, mendiskreditkan dan mengkriminalisasi lawan-lawannya. Kedua, menggunakan teror fisik untuk membungkam musuh-musuhnya.

Ada tiga elemen penting yang menjadi budak politik rezim firaun dengan kompensasi jabatan di istana. Pertama adalah para intelektual yang diwakili Hammam sebagai Menteri. Kedua, para ahli manipulasi yang diwakili oleh para tukang sihir. Ketiga adalah militer yang diwakili oleh para pasukan tentara firaun.

Historically, Firaun adalah gelar Raja Mesir pada zaman Nabi Musa, As. Namun dalam perspektif Islam, sebutan Firaun tidak lagi sekadar gelar para raja di era Mesir kuno. Namun ia adalah simbol kebiadaban dan kesombongan. Bagi umat Islam, Firaun lebih dimaknai sebagai pemimpin yang zalim dan sombong.

© Copyright 2022 - Berinteraksi dalam Keberagaman