Breaking News

Kedudukan Doa dalam Ibadah


Oleh Muh. Thoriq Aziz Kusuma

“Doa itu adalah ibadah.” Ini memuat limitasi ibadah bahwa seolah-olah hanya doa-lah yang menjadi kandungan dari sebuah ibadah. Ini adalah gaya bahasa Arab untuk  mengekspresikan betapa sangat besar kedudukan doa sebagai sebuah ibadah (majas). Bahkan dalam setiap ibadah itu pasti ada unsur doa (permohonan dan perendahan diri).
 
Kedudukan Doa dalam Ibadah
Perantara Nasional, —  Doa adalah asas dasar ibadah, rahasia kekuatan dan semangat tegaknya sebuah ibadah.

Seorang hamba saat berdoa kepada Allah, Swt., ia tahu dan yakin seyakin-yakinnya bahwa tidak ada yang dapat memberi kebaikan ataupun menolak bahaya melainkan hanya Allah, Swt. Inilah hakikat dari ketauhidan dan keikhlasan. Tidak ada ibadah yang lebih agung dari keduanya.

Dari Sahabat An-Nu’man bin Basyir y dari Rasulullah a Beliau bersabda :

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ ثُمَّ قَرَأَ : وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Doa itu adalah ibadah. Lalu Beliau membaca ayat : “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah (berdo’a) kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (HR. Al-Tirmizi)

الدعاء مخ العبادة

“Doa itu otak atau intisari dari ibadat”. (H.R. Al-Tirmizi dari Anas bin Malik)

Doa merupakan jenis ibadah yang terpenting bila ditinjau dari dua sisi. Pertama, Rasulullah menyebutnya dengan ḍamīr munfaṣil (هو) dan ḍamīr munfaṣil menunjukkan arti penegasan. Yang kedua, Rasulullah menyebut ibadah dengan alif dan lām (العبــادة) seakan-akan beliau mengatakan: (الدعاء هو العبــادة لا غيره) artinya doa itu adalah ibadah bukan yang lainnya.

Doa itu adalah ibadah.” Ini memuat limitasi ibadah bahwa seolah-olah hanya doa-lah yang menjadi kandungan dari sebuah ibadah. Ini adalah gaya bahasa Arab untuk  mengekspresikan betapa sangat besar kedudukan doa sebagai sebuah ibadah (majas). Bahkan dalam setiap ibadah itu pasti ada unsur doa (permohonan dan perendahan diri).

Allah, Swt., menginstruksikan kepada hamba-hambaNya agar memperbanyak doa kepadaNya, bahkan bagi siapa saja yang enggan berdoa maka Allah mengancamnya dengan murkaNya. Perintah Allah, Swt., kepada manusia agar berdoa kepadaNya. Jika mereka berdoa niscaya Dia akan memperkenankan doa itu.

Yang dimaksud ibadah dalam ayat di atas adalah ibadah doa. Dan sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari berdoa kepadaKu akan masuk ke dalam neraka yang hina dina. Dengan kata lain, ayat ini merupakan peringatan dan ancaman yang keras kepada orang-orang yang enggan berdoa kepada Allah, Swt. 

Dalam QS. Al-Mu’minun ayat 60, Allah, Swt., mensifati orang-orang yang enggan berdoa dengan kesombongan dan kemurkaan akan menimpa kepada mereka.

Doa merupakan ibadah yang paling agung. Di dalam doa terpendam konstruksi pengagungan, penghambaan dan menunjukkan kelemahan dari seorang hamba kepada Sang Khāliq atau pencipta.

“Doa itu otak atau intisari dari ibadat”. (H.R. Al-Tirmizi dari Anas bin Malik). Doa dikatakan sebagai intisari ibadah karena merupakan perwujudan dari kepercayaan seorang hamba kepada Allah, Swt., serta keyakinan kepadaNya-lah yang dapat mendatangkan seluruh hajatnya dan juga pengakuan ketidakmampuan dan lemahnya dia.

“Doa itu otak atau intisari dari ibadat," bermakna kemurnian dan rahasia kekuatan ibadah terletak pada doa. Oleh Al-Mubār Kafuurii dalam kitab Tuḥfatul Aḥważī, ia menyatakan bahwa doa adalah inti dan kemurnian dari ibadah. Karena seorang hamba yang berdoa kepada Allah saat terputusnya harapan dari selainNya, inilah hakikat dari tauhid dan ikhlas. Tidak ada derajat ibadah yang lebih tinggi dari keduanya.

Mukh adalah otak, intisari adalah sesuatu yang membuat berdiri (hidup), yakni bahwa ibadah itu hanya akan berdiri dengan doa, sebagaimana halnya manusia tidak akan berdiri (hidup) kecuali dengan otak. Hadis ini mengisyaratkan posisi atau kedudukan doa di antara jenis-jenis ibadah lain.

Ibnu 'Arabi berkata, otak merupakan kekuatan untuk semua anggota badan, demikian juga doa, doa adalah otaknya ibadah, dengan doa ibadah seseorang menjadi kuat dan doa adalah spiritnya ibadah.

Oleh sebab itu doa adalah intisari atau asas dasar ibadah. Seperti halnya wukuf di Arafah adalah intisari haji dan agama adalah nasihat karena intisari agama adalah nasihat.

Dan siapa saja yang banyak berdoa dan konsisten, maka ia makan merasakan nikmatnya dekat dan berhubungan dengan Allah, Swt., serta keterkaitan hati dan keikhalasannya kepada Allah, Swt., dalam seiap perbuatannya.




© Copyright 2022 - Berinteraksi dalam Keberagaman