Senin, 20 Juli 2020 |19:05
![]() |
| Ketua MPR RI, H. Bambang Soesatyo, S.E., M.B.A. |
Perantara Nasional, Jakarta – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menegaskan era disrupsi, dimana aktivitas dunia nyata beralih ke dunia maya, tidak hanya menghadirkan modernitas dan kemajuan. Namun, juga menimbulkan tantangan tersendiri. Konsekuensi logis dari lahirnya era disrupsi adalah tuntutan adaptasi melalui literasi teknologi. Karenanya, penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan adalah sebuah kebutuhan yang tidak terelakan.
"Meski demikian, literasi
teknologi bukanlah satu-satunya jawaban. Karena era disrupsi tidak hanya
menawarkan kemajuan dan nilai tambah, melainkan juga dampak yang bersifat
multidimensional," ujar Bamsoet saat memberikan Sosialisasi Empat Pilar
MPR RI bertema 'Meneguhkan Komitmen Kebangsaan di Era Disrupsi' kepada Pelajar
Islam Indonesia (PII) secara virtual dari Ruang Kerja Ketua MPR RI di Jakarta,
Senin (20/7/20).
Turut serta antara lain Ketua Umum
PB PII Husin Tasrik Makrup Nasution, Sekretaris Jenderal PB PII Aris
Darussalam, Wakil Sekjen PB PII A.A. Fauzul Adzim serta ratusan kader PII di
seluruh Indonesia.
Mantan Ketua DPR RI ini menuturkan
di era disrupsi, digitalisasi dalam bidang industri akan mengoreksi peran dan
kebutuhan sumberdaya manusia pada berbagai bidang. Teknologi robotik yang
bekerja dengan cepat, akurat, efisien, tidak mengenal lelah, akan menggeser
peran sumber daya manusia yang dalam beberapa aspek mempunyai kelemahan.
"Sebagai contoh, produk
kecerdasan buatan (artificial intelligence) di bidang hukum telah melahirkan
teknologi bernama COIN (Contract Intelligence). Sebuah mesin pintar yang
memiliki kemampuan menganalisa perjanjian kredit dalam waktu yang singkat dan
dengan tingkat akurasi yang optimal. Ini jauh lebih cepat dari rata-rata waktu
yang dibutuhkan oleh seorang advokat untuk mengerjakan hal yang sama,"
kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia
ini menambahkan, disrupsi teknologi juga akan melahirkan kesenjangan dalam hal
literasi teknologi. Misalnya dalam dunia pendidikan, untuk menyiapkan siswa
agar mampu beradaptasi dalam menghadapi tantangan zaman, harus dibangun pola
dan sistem pendidikan yang dapat menghilangkan kesenjangan teknologi antara
kompetensi guru, kebutuhan siswa serta sarana prasarana pendidikan di
sekolah.
"Perlu sinergi agar ketiga
variabel tersebut tidak terjebak dalam kesenjangan teknologi. Di mana gurunya
masih dengan mindset abad 20, siswanya lahir dan hidup di abad 21, dan
fasilitasi sekolah masih merujuk abad 19," urai Bamsoet.
Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini
mengingatkan, era disrupsi akan membuat kehidupan sosial masyarakat
cenderung semakin individualistik. Fakta bahwa kemajuan teknologi
menawarkan kemudahan dalam banyak hal, sedikit banyak akan mengevaluasi cara
pandang kita sebagai makhluk sosial.
"Kemajuan teknologi telah
mereduksi ketergantungan terhadap peran individu lain dalam sistem sosial
kemasyarakatan kita. Pemanfaatan internet secara salah juga dapat mendorong
lahirnya sikap intoleran, penyebaran hoax, bahkan tindakan kriminal,"
tutur Bamsoet.
Lebih jauh, Wakil Ketua Umum
Pemuda Pancasila ini menandaskan, era disrupsi tidak boleh menghilangkan
nilai-nilai kemanusiaan dan membutakan visi kebangsaan. Karena tidak semua
nilai-nilai global yang masuk tersebut selaras dengan jati diri dan kepribadian
bangsa Indonesia.
"Survey LSI Tahun 2018
menemukan bahwa dalam kurun waktu 13 tahun, periode 2005 sampai dengan 2018,
masyarakat yang pro terhadap Pancasila telah mengalami penurunan sekitar 10
persen. Dari 85,2 persen pada tahun 2005 menjadi 75,3 persen pada tahun
2018," papar Bamsoet.
Tak hanya itu, lanjut Wakil Ketua
Umum Partai Golkar ini, dalam survey yang dilakukan pada akhir Mei 2020 oleh
Komunitas Pancasila Muda, dengan responden kaum muda dari 34 provinsi, tercatat
hanya 61 persen responden yang merasa yakin dan setuju bahwa nilai-nilai
Pancasila sangat penting dan relevan dengan kehidupan mereka.
"Karenanya, saya mengajak
seluruh generasi muda, termasuk kader PII, untuk mampu menyikapi era disrupsi
dengan bijak. Jadilah bagian dari kader-kader bangsa yang mampu merespon era
disrupsi dengan mengembangkan setiap potensi dan kapasitas diri, untuk
memajukan bangsa tanpa menanggalkan karakter ke-Indonesiaan kita," pungkas
Bamsoet. (*)

Social Header