Breaking News

Takdir Sudah Ditulis Sejak Zaman Azali, Lalu Dimana Kedudukan Doa? Telaah Ungkapan Ibnu 'Aṭāillāh Al-Sakandarī dalam Al-Ḥikam oleh Ustaz Thoriq Aziz


Mencuplik perkataan Ibnu Taimiyyah, lanjut Ustaz Thoriq, bahwa musibah yang menimpamu dan membuatmu mengingat Allah, Swt., lebih baik dari pada nikmat yang membuatmu lupa dari menyebut namaNya.
Minggu (12/7/2020), Dai Alumni Universitas Al-Azhar Kairo, Ustaz Thoriq Aziz menjadi narasumber dalam kajian subuh berkah di Masjid Al-Huda Kerten, Kota Surakarta.

Perantara Nasional, Kota Surakarta – Memasuki fase new normal perlahan-lahan aktivitas kajian di Masjid-masjid mulai kembali berjalan.

Seperti biasanya setiap Minggu pagi, Takmir Masjid Al-Huda Kerten, Kota Surakarta menggelar kajian subuh berkah.

Minggu (12/7/2020), Dai Alumni Universitas Al-Azhar Kairo, Ustaz Thoriq Aziz menjadi narasumber dalam kajian subuh berkah di Masjid Al-Huda Kerten tersebut.

Ustaz Thoriq memaparkan a blessing in disguise, sebuah berkah atau hikmah tersembunyi di balik wabah global Corona yang merundung hampir semua negera di seluruh penjuru dunia. Ia mengungkapkan ada tiga hikmah di balik semua kejadian ini, diantaranya adalah soal ujian terhadap iman kepada takdir dan qaḍā' Allah, Swt., ujian ukhuwah dan solidaritas, serta soal perlunya belajar dan mendalami agama secara utuh.

Dalam kesempatan itu, Ustaz Thoriq mengutip ungkapan kritik dari seorang ulama besar penulis kitab Al-Ḥikam, yakni Ibnu 'Aṭāillāh Al-Sakandarī terhadap pemahaman yang selama ini tersiar di tengah-tengah masyarakat tentang kedudukan doa di hadapan takdir Allah, Swt.

Bahwa tak jarang ditemukan di kalangan masyarakat kaum Muslimin yang beranggapan sebenarnya nikmat yang telah diterima oleh seorang hamba saat ini adalah wujud dari terkabulnya doa yang ia panjatkan di waktu-waktu dahulu.

Disebutkan dalam Al-Ḥikam,

كَيْفَ يَكُونُ طَلَبُكَ اللاَّحِقَ سَبـبًا فى عَطَاءِـهِ السَّابِقِ

“Bagaimana mungkin permintaanmu yang datang kemudian, itu menjadi sebab pemberian Allah yang telah ditetapkan dan diputuskannya sejak dahulu.”

Sekali-kali benar, tak dapat diterima akal bilamana permintaan atau doa seorang hamba yang terjadi saat ini menjadi alasan atau sebab pemberiaan Allah, Swt., yang sudah lalu. Kata putus Allah, Swt., terhadap segala sesuatu telah ditetapkan di zaman azali (dahulu) sebelum adanya alam ini. Terbilang seluruh keperluan hajat hidup semua makhluk, termasuk manusia.

Sebelum meminta sesuatu, Allah, Swt., sudah menggariskan dan menetapkan apa yang dibutuhkan hambaNya. Artinya sebelum hambaNya meminta, Allah, Swt., sudah memberi. Malahan, sebelum hamba tahu bagaimana cara meminta, ALlah, Swt., sudah tetapkan segala kebutuhannya.

Oleh sebab itu, tak diperkenankan seorang hamba beranggapan Allah, Swt., lupa dengan kebutuhan dan keperluaannya (hajat), sampai-sampai harus diingatkan agar Allah, Swt., memberikan hajatnya. Bilamana sedemikian rupa keyakinan seorang hamba terhadap Allah, Swt., Rabbul 'ālamīn, itu menunjukkan bahwa seorang hamba itu belum sungguh-sungguh mengenal Allah, Swt., dengan segala sifat kesempurnaanNya.

Segala hal yang terjadi, semata-mata dari qudrah dan irādah Allah secara mutlak, sehingga tidak disandarkan pada ‘illah/sebab musabab (kerana ini dan itu).

Ustaz Thoriq melanjutkan kutipan dari Al-Ḥikam,

لا يَكُنْ طَلَبُكَ تَسَـبُّـبًا اِلى العَطَاءِ مِنْهُ فَيَقِلَّ فَهْمُكَ عَنْهُ وَاليَكُنْ طَلَبُكَ لاِظْهارِ العُبُودِ يَّةِ وَقياماً بِحُقُوقِ الرُّبُوبيَّةِ

“Jangan sampai doa permintaanmu itu engkau jadikan alat/sebab untuk mencapai pemberian Allah (jangan punya anggapan bahwa pemberian Allah itu sebab doamu), niscaya akan kurang pengertianmu atau makrifatmu kepada Allah, tetapi hendaknya doa permintaanmu itu semata-mata untuk menunjukkan kerendahan dan kehambaanmu serta kehadiranmu dalam menunaikan kewajiban terhadap ketuhanan Allah.”

Perintah Allah, Swt., kepada hambaNya untuk berdoa dan meminta kepadaNya, tak lain dan tak bukan hanya supaya hamba benar-benar menunjukkan sifat fakir, hina dan bodohnya di hadapan Allah, bukan menjadi sebab untuk menghasilkan apa yang diminta.

Bagi mereka yang sudah mengenal Allah, Swt., dengan segala sifat kesempurnaanNya, 'ārif billāh, maka mereka tidak pernah berhenti dan bosan meminta kepada Allah, meskipun tidak diberikan apa yang diminta, bagi mereka antara diberi atau tidak itu tidak bermakna apa-apa, sama saja, sehingga mereka selalu menjadi hamba Allah dalam segala keadaan.

Menjadikan doa sebagai tujuan untuk tercapai hajat atau keperluan, maka dalam keadaan demikian berarti hamba itu terhijab dari Allah. Semestinya tujuan doa itu untuk munajat kepada Allah, Swt. Dan bala atau bencana yang memaksa hamba berdoa kepada Allah, itu lebih baik daripada menerima nikmat kesenangan yang melupakan kepada Allah dan menjauhkan daripadaNya.

Mencuplik perkataan Ibnu Taimiyyah, lanjut Ustaz Thoriq, bahwa musibah yang menimpamu dan membuatmu mengingat Allah, Swt., lebih baik dapi pada nikmat yang membuatmu lupa dari menyebut namaNya.
 


© Copyright 2022 - Berinteraksi dalam Keberagaman