![]() |
| Ustaz Muh. Thoriq Aziz Kusuma membersamai Al-Ustāz Al-Duktūr Jamāl Ibn Fārūq Ibn Jibrīl Ibn Mahmūd Al-Daqqād Al-Firsyūthī Al-Hasanī Al-Azharī. |
Perantara
Nasional, Kabupaten Boyolali – Sangat
penting untuk peduli pada urusan politik, sebab dengan tahu politik, artinya
orang tahu apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya.
Keputusan politik yang diambil
oleh segelintir orang akan mempengaruhi kehidupan banyak orang. Masyarakat
melihat politik sebagai sebuah roda pemerintahan, itu benar, tetapi jauh lebih
rumit dari itu. Setiap kebijakan yang dibuat dari tindakan politik akan
berdampak pada banyak orang.
Dengan politik apa yang akan
terjadi ditentukan. Ini mengapa publik harus peduli dengan politik. Politik
sangat penting dan rumit. Beberapa orang mungkin tidak peduli dengan
politik, tetapi ketika sesuatu yang buruk terjadi, mereka akan menyesal karena
bersikap masa bodoh dengan politik.
Dai jebolan Studi Islam dan Bahasa
Arab Universitas Al-Azhar Kairo, Thoriq Aziz, meminta para ulama, dai atau
mubaligh untuk berani berbicara politik. Thoriq menilai hal itu merupakan
sebuah keharusan.
"Seorang ulama atau mubaligh
tidak boleh berhenti untuk berbicara tentang politik," kata Thoriq Aziz
saat dihubungi, Rabu (12/8/2020) malam.
Politik yang dimaksud Thoriq
adalah politik secara umum. Yakni politik yang jujur, baik dan berkeadilan
untuk kemaslahatan umat dan bangsa.
Menurut Mantan Ketua MPA PPMI Mesir itu, bicara politik secara umum merupakan bentuk
nasihat dalam beragama, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, serta perbuatan amar ma'ruf nahi munkar. Hal itu semua, lanjut Thoriq, adalah sebuah keharusan
yang tak dapat dipungkiri.
"Bicara politik itu merupakan
bentuk al-naṣīḥah fī al-dīn (nasihat dalam beragama), al-tawāṣī bi-al-ḥaq wa
al-ṣabr (saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran), serta amar ma'ruf
nahi munkar," jelasnya.
Idealnya ulama menjadi penjaga,
dan adalah kewajiban ulama sebagai pewaris nabi untuk bicara politik. Ulama
memiliki pengaruh signifikan terhadap politik dan keberlangsungan kehidupan
umat dan bangsa di masa-masa mendatang.
Ambilah contoh Syeikh dari Mesir,
Rifa'a Al-Tahtawi yang merupakan anggota ulama pertama yang melakukan
perjalanan ke Eropa. Sebagai penasihat agama Muhammad Ali Pasha, dia tinggal di
Paris dari tahun 1826 hingga 1831. Laporannya tentang "Taḫlīṣ al-ibrīz fī
talḫīṣ Bārīz" pada tahun 1849 memuat beberapa garis besar reformasi masa
depan dan potensi perbaikan di negara asalnya, Mesir.
Meskipun Al-Tahtawi telah
menjalani pendidikan tradisional, ia berniat kuat untuk mempelajari konsep
administrasi dan ekonomi Prancis modern. Ia hanya ingin merujuk pada Islam sekaligus menekankan bahwa Muslim dapat mengadopsi pengetahuan dan wawasan praktis dari
Eropa. Dengan demikian, laporan At-Tahtawi mencerminkan upaya politik Muhammad
Ali Pasha, yang tidak bermaksud untuk mereformasi Universitas Al-Azhar, tetapi
bertujuan untuk membangun sistem pendidikan independen yang disponsori oleh
pemerintahnya.

Social Header