Breaking News

Kontribusi Peradaban Islam di Bidang Ilmu Pangan dan Gizi


Minggu, 2 Agustus 2020 | 06:15

Written by Muh. Thoriq Aziz Kusuma

Muh. Thoriq Aziz Kusuma, S. Pd., Lc., Student of Preparation Precedes at The Language Department of Al-Azhar Cairo 2014.

 Perantara Nasional, Kabupaten Boyolali – Pandangan Muslim soal pangan tercermin dalam kehidupan orang-orang Arab di masa-masa awal Islam, meskipun orang-orang Arab belum terlalu memperhatikan peningkatan dan pengembangan pangan mereka. Hal tersebut disebabkan karena mereka belum memiliki keahlian atau penguasaan untuk menganekaragamkan pangan mereka. Namun mereka mengikuti tradisi bangsa dan masyarakat lain yang kemudian masuk Islam.

Dari sini orang-orang Arab mengetahui tradisi bangsa-bangsa dan masyarakat lain dalam persoalan pengadaan pangan dan pengembangannya serta hal-hal wajib yang berkaitan dengannya. Sehingga sampai saat ini banyak  hidangan dan masakan yang masih menggunakan nama-nama non-Arab yang ditransfer dari tradisi bangsa lain, semisal Kebab, Nasi Biryani, Nuts, Bulgur, Al-Tarshi, Circassian, Koshari, Pasta dan makanan-makanan lainnya.

Dengan berlalunya waktu dan ekspansi negara-negara Islam, maka para cendekiawan Muslim menjadi semakin tertarik dalam manajemen pangan, adat istiadat dan etiket, sehingga beberapa buku hadir di publik pembaca khusus bicara masalah ini, seperti buku  Al-Walaaim atau Perjamuan yang ditulis oleh Syams al-Din Muhammad bin Ali bin Tulun Al-Dimashqi (1475-1546), buku Ādāb al-Akl/Adab atau Etiket Makan karya Ibn Imad Al-Afhaqbi (1349-1405), dan buku Tadbīr Al-Aṭ'imah atau Manajemen Makanan yang ditulis oleh Al-Kindi (801-856).

Konsep Moderasi dan Inefisiensi

Kontribusi peradaban Islam tak hanya dalam pengelolaan pangan, makanan dan adat istiadat, tetapi memiliki dampak paling signifikan dalam pengembangan konsep nutrisi, gizi dan kesehatan, serta berdampak dalam menciptakan perilaku gizi yang tepat dan mengestimasi pangan atau makanan sebagai faktor penting dalam kesehatan manusia. Dan ini semua merupakan pembenaran ilmiah atas kenabian dan risalah Muhammad, Saw.

Ayat-ayat Al-Quran mendesak umat Islam untuk tidak berperilaku tabżīr (boros) dan isrāf (melampaui batas) soal makan. Artinya tidak menyia-nyiakan makanan, tidak boros dan tidak melampai batas.

tidak menyia-nyiakan atau menyia-nyiakan makanan, dan untuk melakukan metode mediasi dan moderasi dalam semua urusan kehidupan. Islam mendidik umatnya agar berlaku sedang dan berimbang dalam segala urusan kehidupan.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." (QS. Al-Baqarah: 143)

Keutamaan umat Islam dibandingkan umat-umat yang lain, ialah karena umat Islam itu adalah umat pertengahan dan pertengahan adalah syiarnya. Umat Islam akan bertindak adil, berlaku sedang dan berimbang dalam segala urusan.

وَاَقِيْمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيْزَانَ

"Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.” (QS. Al-Rahman: 9)

Bahkan Al-Quran bicara khusus soal ruang lingkup makanan, seperti dalam QS. Al-A'raf: 31.

وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ

"Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."

Perintah untuk makan dan minum dari barang yang baik-baik yang di karuniakan Allah kepada manusia, dan larangan untuk melampaui batas kewajaran dalam hal itu, melampaui batas kemewahan dalam makan, minum dan berpakaian. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas dan berlebihan dalam makanan dan minuman dan hal lainnya.

مَا ملأَ آدمِيٌّ وِعَاءً شَرّاً مِنْ بَطنِه، بِحسْبِ ابنِ آدمَ أُكُلاتٌ يُقِمْنَ صُلْبُهُ، فإِنْ كَانَ لا مَحالَةَ، فَثلُثٌ لطَعَامِهِ، وثُلُثٌ لِشرابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

“Tidaklah ada sesuatu yang memenuhi wadah ibnu Adam yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah ibnu Adam itu dengan beberapa (suap) makanan yang menegakkan sulbinya. Kalau tidak mungkin, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya” (HR. Ahmad)

Studi sains modern telah menunjukkan bahwa obesitas akibat makan yang berlebihan adalah salah satu penyakit paling berbahaya pada saat ini. Seperti halnya munculnya banyak penyakit yang mengancam kehidupan manusia dan berakibat pada kematian, seperti penyakit diabetes, tekanan darah tinggi, arteriosklerosis dan asam urat. Ini menegaskan validitas perkataan Harits bin Kaldah bahwa,

الْمعدة بَيت الدَّاء وَالْحمية رَأس كل دَوَاء

"Perut adalah rumah penyakit sedang tidakan pencegahan (preventif) adalah obat yang paling utama."

Atau senada dengan petatah barat yang berbunti “you are what you eat,” kamu adalah apa yang kamu makan.

Ayat-ayat Al-Quran dan Hadis Nabi, Saw., datang bicara secara spesifik tentang makanan, seperti daging, kurma, madu, dan susu, serta berbicara tantang penting dan manfaat pangan yang bergizi bagi kesehatan. Allah, Swt., berfirman tentang pentingnya madu untuk kesehatan, QS. Al-Nahl: 69. 

ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ فَٱسْلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

"Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan."

Demikian juga Rasulullah, Saw., berbicara perihal pentingnya kurma gizi.

Aisyah, Ra., meriwayatkan bahwa Rasulullah, Saw., telah bersabda:

يَا عَائِشَةُ بَيْتٌ لاَ تَمْرَ فِيهِ جِيَاعٌ أَهْلُهُ

“Wahai Aisyah, rumah yang di dalamnya tidak ada kurma, penghuninya adalah orang-orang yang lapar.” Beliau menyabdakan hal itu tiga kali. (HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Susu merupakan nikmat Allah yang sangat bermanfaat untuk tubuh sehingga patut untuk disyukuri dengan membaca doa sebelum minum susu tersebut. Berikut adalah doa Nabi Muhammad, Saw., sebelum minum susu.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ  وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Allah, berkahilah minuman kami dan tambahkanlah darinya (rezeki) pada kami. Dan lindungilah kami dari api neraka.”

Doa tersebut berdasarkan hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Nabi, Saw., bersabda;

وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ

“Barangsiapa diberi minuman susu oleh Allah, maka hendaknya dia berdoa: Ya Allah, berkahilah minuman kami dan tambahkanlah darinya (rezeki) pada kami.”

Perawatan dan pengobatan dengan makanan terhadap penyakit adalah salah satu dasar terpenting dari perawatan medis untuk banyak penyakit di rumah sakit di kota-kota Islam di era Umayyah dan Abbasiyah. Hal ini tertuang dalam buku-buku kedokteran dan kesehatan di kalangan umat Muslim terdahulu, seperti Al-Razi (850-932) dan Ibn Sina (980-1037), Ibn Sina merangkum dalam bukunya yang berjudul Al-Qanūn fī Al-Ṭib (Hukum dalam Kedokteran) dalam bait-baitnya yang terkenal dengan "Argosa in Medicine", dimana ia menunjukkan perhatiannya yang besar pada masalah pangan dan pengobatan dengannya. Contoh buku-buku lain yang ditulis oleh para sarjana Muslim dalam hal pangan, gizi dan nutrisi, diantaranya buku Al-Asyribah karya Ibn Maasue (777-857), buku Tadbīr Al-Aṣiḥḥā bi Al-Maṭ'am wa Musyrif karangan Hanin Ibn Ishaq (809-873), buku Arjuzah dalam Diet ditulis oleh Ibn Azrout, dan buku Arjuzah fī Al-Agżiyyah wa Al-Tiryāq yang dikarang oleh Sinan Al-Din Ibn Al-Khatib (1313-1375).



© Copyright 2022 - Berinteraksi dalam Keberagaman