Jumat, 28 Agustus 2020 | 19:54
Perantara
Nasional, Jakarta – Ketua MPR RI Bambang
Soesatyo menegaskan tantangan terbesar bangsa Indonesia bukan sebatas membangun
konektifitas antar wilayah melalui pembangunan infrastruktur fisik. Tetapi,
juga membangun konektifitas dalam ikatan kebangsaan. Setidaknya ada tiga
prioritas yang dapat dijadikan fokus perhatian, antara lain implementasi
pemerataan pembangunan, pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan pembangunan
wawasan kebangsaan.
"Perguruan tinggi merupakan
mitra penting MPR RI dalam berjuang membangun sumber daya manusia (SDM) yang
tak hanya pintar secara akademik. Tetapi juga cerdas secara wawasan kebangsaan.
Atas dasar itulah, MPR RI dan Universitas Terbuka menandatangani nota
kesepahaman kerjasama (MoU) untuk mensosialisasikan Empat Pilar MPR RI.
Pembangunan wawasan kebangsaan tidak lahir secara alamiah. Melainkan proses
berkesinambungan yang harus ditanam, dijaga, dan dirawat, agar terus tumbuh dan
berkembang," ujar Bamsoet usai penandatanganan MoU sekaligus Sosialisasi
Empat Pilar MPR RI secara virtual kepada jajaran Civitas Akademika Universitas
Terbuka, dari Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta, Jumat (28/8/20).
Turut hadir jajaran rektorat
Universitas Terbuka, antara lain Rektor Prof. Ojay Darojat, Wakil Rektor IV Dr.
Liestyodono Bawono Irianto, Dekan Fakultas Hukum Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Dr. Sofjan Aripin, Dosen Universitas Terbuka Sjaiful Mifdar, dan Kepala Pusat
Keilmuan Prof. Dr. Maximus Gorky Sembiring.
Mantan Ketua DPR RI ini menilai
kehadiran Universitas Terbuka yang menawarkan platform pendidikan jarak jauh,
sangat relevan untuk meningkatkan pemerataan kesempatan pendidikan tinggi bagi
masyarakat yang tersebar di berbagai wilayah. Didukung penetrasi internet
mencapai 64 persen, yang menandakan 171,9 juta jiwa dari 268,6 juta penduduk
Indonesia telah mengakses internet. Memudahkan penerapan sistem pembelajaran
jarak jauh sekaligus Sosialisasi Empat Pilar MPR RI berbasis daring (online).
"Kita tak ingin berbagai
persoalan menyangkut rendahnya kualitas SDM sebagaimana yang terjadi di tahun
lalu, terulang kembali di tahun mendatang. Misalnya ditunjukan dalam survei
Programme for International Student Assessment (PISA) 2019 yang menempatkan
kemampuan membaca, matematika, dan sains pelajar Indonesia pada peringkat ke-72
dari 77 negara. Selain itu, data Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia
dan Kebudayaan mencatat, setiap tahunnya terdapat 1,8 juta dari total 3,7 juta
lulusan pendidikan tingkat menengah yang terpaksa bekerja, tidak dapat
melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi," tandas Bamsoet.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia
ini juga menyoroti pemerataan pembangunan yang belum sepenuhnya terwujud,
sehingga menjadi beban bagi terwujudnya konektifitas kebangsaan yang kuat.
Terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2019, mayoritas
kontribusi terhadap produk domestik bruto (sekitar 80,32 persen) masih berasal
dari kawasan barat, yaitu Jawa sekitar 59 persen dan Sumatera sekitar 21,3
persen.
"Ini menandakan selain
membangun infrastruktur fisik, pemerintah juga perlu menggalakan kebijakan
pendukung lainnya, seperti reforma agraria dan penciptaan lapangan kerja
melalui UMKM. Kampus juga tak boleh ketinggalan dalam menempa jiwa
kewirausahaan para peserta didiknya. Sehingga jika lulus nanti, mereka tak
semata menjadi tenaga kerja yang handal namun juga bisa membuka lapangan
pekerjaan," pungkas Bamsoet. (*)

Social Header