Rabu, 9 September 2020 | 17:58
Perantara Nasional, Jakarta –
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo turut berbelasungkawa atas wafatnya tokoh
jurnalistik sekaligus pendiri Kompas, Jakob Oetama. Tak banyak yang mengetahui,
selain mengabdikan diri di dunia jurnalistik, Jakob Oetama juga pernah
mengabdikan diri menjadi guru di SMP Mardiyuana, Cipanas, Jawa Barat
(1952-1953), Sekolah Guru Bagian B di Lenteng Agung, Jakarta (1953-1954), dan
SMP Van Lith di Gunung Sahari (1954-1956). Beliau juga pernah mengabdikan diri
di parlemen sebagai anggota DPR RI dari Fraksi Karya Pembangunan, Golkar (1966-1982)
serta anggota MPR RI dari Utusan Daerah (1987-1999).
"Bangsa Indonesia kehilangan
salah satu putera terbaiknya. Namun kepergiannya tak akan sia-sia. Semasa
hidupnya, peraih Bintang Mahaputera dari pemerintah Indonesia pada tahun 1973
ini telah mencurahkan diri dan pemikirannya untuk memajukan dunia jurnalistik.
Lebih dari itu, beliau juga seorang budayawan sekaligus pelestari kebhinekaan.
Menjadi penegas bahwa kecintaannya terhadap Indonesia tak perlu
diragukan," ujar Bamsoet menyampaikan duka citanya, di Jakarta, Rabu
(9/9/20).
Ketua DPR RI ke-20 ini
mengungkapkan, seusai lulus kuliah dan memulai karir di dunia jurnalistik
sebagai wartawan di Harian Umum Prioritas pada tahun 1985, dirinya banyak
mendapat inspirasi dari sepak terjang Jakob Oetama. Bagi para jurnalis muda
seperti Bamsoet, sosok Jakob Oetama tak sekadar guru, melainkan juga menjadi
ayah ideologis.
"Tak hanya mengajarkan,
beliau merupakan wujud nyata dari perpaduan idealisme dan integritas. Cara
beliau membesarkan Kompas bersama sahabatnya, PK Ojong, merupakan cerminan
semangat gotong royong. Terlalu banyak cerita baik tentang beliau yang telah
saya dengar dari para wartawan Kompas. Ia tak memperlakukan wartawan maupun
karyawannya sebagai pekerja, melainkan sebagai aset berharga yang dirawat,
dijaga, dan dikembangkan. Hingga menempatkan wartawan Kompas sebagai wartawan
yang paling sejahtera," tandas Bamsoet.
Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini
meyakini, walaupun sosok Jakob Oetama sudah tak ada lagi, namun semangatnya
akan tetap menemani. Ketekunannya membangun Kompas hingga menjadi sebesar ini,
menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk tidak pantang menyerah menghadapi
berbagai cobaan dalam hidup.
"Sosok Jakob Oetama juga
termasuk pejuang demokrasi, simbol perlawanan terhadap otoritarianisme. Pada
2-5 Oktober 1965, serta 21 Januari 1978, Kompas pernah dilarang terbit. Namun
Jakob Oetama tak bergeming. Baginya, memberikan informasi yang akurat tentang
kondisi bangsa dan negara merupakan bagian dari tanggungjawab pers dalam
mencerdaskan kehidupan bangsa," pungkas Bamsoet. (*)

Social Header