Kamis, 10 September 2020 | 17:52
Perantara
Nasional, Jakarta – Ketua MPR RI Bambang
Soesatyo menjadi inspektur upacara, memimpin serah terima jenazah tokoh pers
nasional Jakob Oetama. Penyerahan jenazah Jakob Oetama dilakukan oleh
putra sulungnya Irwan Oetama kepada Bamsoet selaku Ketua MPR RI mewakili negara
di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta Barat. Selanjutnya, jenazah akan dimakamkan
di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.
Lahir di Magelang, Borobudur pada
27 September 1931, tokoh jurnalistik sekaligus pendiri Kompas ini wafat pada
usia 88 tahun di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading pada Rabu (9/9/20).
Kecintaannya terhadap Indonesia tak perlu diragukan, bisa dilihat dari rekam
jejaknya sebagai jurnalis, budayawan, sekaligus pejuang demokrasi. Hingga
akhirnya mengantarkan dirinya meraih penghargaan Bintang Mahaputera dari
pemerintah Indonesia pada tahun 1973.
"Terlalu banyak testimoni
yang bisa diberikan tentang kehebatan Pak Jakob Oetama di bidang jurnalis,
budayawan, dan demokrasi. Namun tak banyak yang mengulas sosoknya sebagai
manusia yang rendah hati, peduli terhadap sesama, dan yang terpenting caranya
memperlakukan para wartawan dan karyawannya dengan sangat baik. Tak heran jika
dibawah kepemimpinannya, Kompas tak sekadar menjadi koran biasa. Melainkan
berkembang biak menjadi imperium Kompas Gramedia Group yang memiliki gedung
setinggi 223 meter dengan 53 lantai, terletak di jantung Ibu Kota
Jakarta," ujar Bamsoet usai melepas jenazah Jakob Oetama, di Jakarta,
Kamis (10/9/20).
Ketua DPR RI ke-20 ini
menceritakan, saat mulai berkarir menjadi wartawan di periode 1985-an, dirinya
banyak mendengar cerita tentang kehebatan sentuhan hati Jakob Oetama kepada
para wartawannya. Beliau tak segan menelepon langsung wartawan yang bertugas di
lapangan untuk mengapresiasi berita yang mereka tulis. Tepukan bahu saat
bertemu serta menyapa para wartawannya dengan nama sapaan mereka, adalah cerita
lain yang menggambarkan cara Jakob Oetama memimpin dengan hati.
"Tak heran jika banyak orang,
bukan hanya para wartawan dan karyawannya, namun juga yang pernah bergaul
dengan dirinya termasuk saya, menganggap Pak Jakob Oetama sebagai ayah
ideologis. Sebagai orang tua yang bijaksana, penuh welas asih dengan kharisma
kepemimpinan yang kuat," tandas Bamsoet.
Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini
menambahkan, di dunia jurnalistik, Jakob Oetama juga bukan tipikal sosok yang
'keras kepala'. Sempat dilarang terbit oleh pemerintahan Orde Baru pada 21
Januari 1978, Kompas akhirnya bisa terbit kembali setelah penandatanganan surat
permintaan maaf dan pernyataan kesetiaan kepada pemerintah Orde Baru dengan kop
surat tertanggal 28 Januari 1978. Menandakan bahwa terkadang kompromi perlu
dilakukan demi tercapainya tujuan.
"Berkat pemikiran Pak Jakob,
Kompas dan dunia jurnalistik Indonesia dikenalkan prinsip baru, dari Jurnalisme
Fakta ke Jurnalisme Makna. Prinsip tersebut pada intinya mengajarkan para
jurnalis tak sekadar membuat berita sesuai fakta, melainkan juga menghadirkan
makna dari fakta peristiwa yang terjadi. Pak Jakob mengajarkan, media seyogianya
menjadi batu penjuru, tempat masyarakat mendapat kepastian. Media harus memberi
jawab, menjelaskan duduknya perkara. Dengan begitu, pembaca mendapatkan
pencerahan. Selamat jalan Pak Jakop. Semangat dan idelismemu tetap dihati
kami," pungkas Bamsoet. (*)

Social Header