Breaking News

Doa: Ibadah yang Paling Agung dalam Islam

Oleh Muh. Thoriq Aziz Kusuma, S. Pd., Lc [Praktisi Studi Islam dan Arab]

Minggu, 11 Oktober 2020 | 19:15

"Ibadah doa merupakan rehatnya seorang Mukmin dari kekhawatiran. Doa adalah ibadah yang paling agung dan mendalam. Doa adalah dasar dan ruhnya ibadah, serta dasar kekuatannya. Karena seorang hamba yang berdoa tidak menghadap kepada Tuhannya dengan permohonan kecuali dia mengetahui dengan pasti bahwa tidak ada yang bisa menguntungkan atau menyakitinya kecuali atas izin Tuhan Yang Maha Esa, dan ini adalah bukti dari sebuah ketulusan dan ketauhidan. Itu adalah dua tindakan pemujaan yang terbaik.

 

Seorang Muslim diseru untuk memperbanyak doa, karena sesunggunya dengan berdoa itu seorang Muslim merasakan nikmatnya hubungan berinteraksi dan berdekatan dengan Allah, Swt. Doa adalah menghadapnya seorang hamba kepada Tuhannya dengan sebuah permohonan, doa sangat dianjurkan dalam setiap waktu.”


 

Perantara-Nasional.Com, Kabupaten Boyolali  Doa didefinisikan sebagai al-taḍarrru' ilā Allāh, memohon dengan kerendahan hati kepada Allah, Swt., untuk meminta hajat dan menghilangkan gangguan, serta dalam beberapa kasus untuk menghadapi atau memantulkan takdir.

 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

 

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” [QS. Ghafir: 60]

 

Ibadah doa merupakan rehatnya seorang Mukmin dari kekhawatiran. Doa adalah ibadah yang paling agung dan mendalam.

 

Doa merupakan ibadah yang paling agung. Dalam sebuah hadis, Rasulullah, Saw., menyebut doa dengan ḍamīr munfaṣil (هو) dan ḍamīr munfaṣil menunjukkan penegasan. Rasulullah, Saw., menyebut ibadah dengan alif dan lām (العبــادة) seakan-akan beliau mengatakan: (الدعاء هو العبــادة لا غيره) artinya doaa itu adalah ibadah bukan yang lainnya.

 

Nabi, Saw., bersabda,

 

الدعاء هو العبــادة

 

“Doa adalah ibadah.”  [Dikeluarkan oleh Al-Tirmizi]

 

Kemudian Nabi, Saw., membaca ayat,

 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

 

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu.” [QS. Ghafir: 60]

 

Riwayat Al-Tirmidzi dari Anas bin Malik, Nabi, Saw., bersabda:

الدُّعاء مُخُّ العبادةِ

 

“Doa adalah inti ibadah”

 

Doa murupakan inti dan ruhnya ibadah. Di dalam doa, seorang hamba menunjukkan ketundukan, kerendahan, kelemahan dan butuh sangat kepada Allah, Swt. Dalam Islam, doa adalah salah satu ibadah yang termulia dan paling tinggi kedudukannya.

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : لَيْسَ شَىْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ

 

Dari Abu Hurairah, Ra., berkata, Nabi, Saw., bersabda: “Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah dibandingkan doa.” [HR. Al-Tirmidzi]

 

Mengapa doa disebut sebagai sesuatu yang paling mulia di sisi Allah, Swt., dibandingkan yang lainnya. Dalam hal ini, para ulama mengungkapkan karena di dalam doa terdapat bentuk sikap perendahan diri seorang hamba kepada Allah atas segala kuasaNya.

 

Allah, Swt., sangat-sangat sekali mencintai hambaNya yang merendahkan diri kepadaNya dan menunjukkan bahwa hanya Allah, Swt., lah satu-satu-Nya yang berkuasa, yang Maha Pengatur, yang Maha Pencipta, tiada sekutu bagiNya.

 

Bentuk ibadah yang hakiki adalah doa. Sebagaimana dinyatakan oleh Al-Qāḍī Al-Baiḍāwī dalam catatan kaki mengenai hadis “Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah dibandingkan doa.” Seorang hamba dalam kondisi berdoa kepada Allah, Swt., berarti ia menghadap kepadaNya, tidak takut dan berharap melainkan kepadaNya. Allah, Swt., memerintahkan kepada setiap hambaNya untuk berdoa, dan itulah tindakan ibadah yang paling mendalam, as a profound act of worship.

 

Riyaḍus Ṣāliḥīn karya Imam Nawawī, Kitāb Al-Da’awāt

 

بَابُ الأَمْرِ بِالدُّعَاءِ وَفَضْلِهِ وَبَيَانِ جُمَلِ مِنْ أَدْعِيَّتِهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 

Perintah untuk berdoa dan keutamaan berdoa serta penjelasan beberapa doa dari Nabi, Saw.,  Hadis 1492

 

وعن أَبي أُمَامَةَ – رضي الله عنه – قَالَ : دعا رسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – ، بدُعاءٍ كَثيرٍ ، لَمْ نَحْفَظْ مِنْهُ شَيْئاً ؛ قُلْنَا : يَا رسول الله ، دَعَوْتَ بِدُعاءٍ كَثِيرٍ لَمْ نَحْفَظْ مِنْهُ شَيْئاً ، فَقَالَ : (( ألا أدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَجْمَعُ ذَلِكَ كُلَّهُ ؟ تقول : اللَّهُمَّ إنِّي أسَألُكَ مِنْ خَيْر مَا سَأَلَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ محمَّدٌ – صلى الله عليه وسلم – ؛ وأعوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا استَعَاذَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ – صلى الله عليه وسلم -، وأنتَ المُسْتَعانُ ، وَعَليْكَ البَلاَغُ ، وَلاَ حَولَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ باللهِ )) . رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن ))

 

Abu Umamah, Ra., berkata, “Rasulullah, Saw., berdoa dengan doa yang banyak yang tidak kami hafal sedikit pun. Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau berdoa denagn doa yang banyak yang tidak kami hafal sedikit pun.’ Maka beliau bersabda, ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang menyatukan itu semua? (Yaitu) engkau mengucapkan: Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu kebaikan yang nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memintanya kepada-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mintakan perlindungan darinya kepada-Mu. Dan hanya Engkaulah yang dapat dimintai pertolongan, serta Allah-lah yang mencukupi (untuk meraih harapan dunia dan akhirat). Dan tidak ada daya serta upaya kecuali dengan pertolongan Allah.” [HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadits ini hasan].

 

Doa yang mirip dengan doa di atas terdapat dalam hadis berikut.

 

Dari Ummul Mukmini ‘Aisyah, Ra., Rasulullah, Saw., mengajarkan doa berikut ini,

 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الجَنَّةَ وَمَا قرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَولٍ أَوْ عَمَلٍ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مَنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا

 

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu semua kebaikan yang disegerakan maupun yang ditunda, apa yang aku ketahui maupun tidak aku ketahui. Aku berlindung kepada-Mu dari semua keburukan, baik yang disegerakan maupun yang ditunda, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu dari kebaikan apa yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari apa yang diminta perlindungan oleh hamba dan nabi-Mu. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan atau perbuatan. Dan aku memohon kepada-Mu semua takdir yang Engkau tentukan baik untukku." [HR. Ibnu Majah, no. 3846 dan Ahmad, 6:133. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih].

 

Doa adalah dasar dan ruhnya ibadah, serta dasar kekuatannya. Karena seorang hamba yang berdoa tidak menghadap kepada Tuhannya dengan permohonan kecuali dia mengetahui dengan pasti bahwa tidak ada yang bisa menguntungkan atau menyakitinya kecuali atas izin Tuhan Yang Maha Esa, dan ini adalah bukti dari sebuah ketulusan dan ketauhidan. Itu adalah dua tindakan pemujaan yang terbaik.

 

Seorang Muslim diseru untuk memperbanyak doa, karena sesunggunya dengan berdoa itu seorang Muslim merasakan nikmatnya hubungan berinteraksi dan berdekatan dengan Allah, Swt. Doa adalah menghadapnya seorang hamba kepada Tuhannya dengan sebuah permohonan, doa sangat dianjurkan dalam setiap waktu.

 

Doa memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam, dan menempati posisi yang luhur dan tinggi. Seorang hamba yang berdoa ia menemukan suplemen bagi jiwanya, ia menemukan obat untuk dirinya, ia menemukan mesin yang dapat mendukung keberadaannya, memperkuat strukturnya, dan membuatnya mengatasi segala sesuatu dengan optimis, sehingga keputusasaan tidak menimpanya, dan jiwanya tidak dirasuki oleh rasa lemah.

 

Wa Allāhu A'lam wa A'lām, Hanya Allah, Tuhan yang Maha Tahu.



Disampaikan dalam kajian rutin di Masjid Al-Wustho Tegalrejo, Ds. Giriroto, Kec. Ngemplak, Kab. Boyolali, Ahad, (11/10/2020) malam.

© Copyright 2022 - Berinteraksi dalam Keberagaman