Minggu, 4 Agustus 2020 | 23:03
Perantara-Nasional.Com, Takalar/ Sulsel – Kehadiran Lembaga Ekonomi Umat Majelis Ulama
Indonesia (LEU MUI) merupakan jawaban konkrit yang ditunggu umat yang saat ini
hanya sebagai obyek bukan sebagai pelaku ekonomi. Ekonomi dikuasai segelintir
orang sehingga kesenjangan ekonomi semakin jauh. Hari ini menjadi momentum
kebangkitan ekonomi umat di Sulawesi Selatan hadirnya Pendiri Lembaga Ekonomi
Umat MUI Haji Sutrisno Lukito didampingi M. Harry Naldi di Islamic Center
Takalar, pada Minggu (4/9/2020).
Haji Sutrisno Lukito (pengusaha
yang memulai usaha dari zero hingga menjadi pengusaha sukses) mengatakan
kehadirannya ke Takalar Sulawesi Selatan bukan untuk berceramah.
“Kami datang bukan untuk ceramah
atau seminar tapi saya datang untuk mengajak umat di Sulawesi Selatan khususnya
Takalar bersatu, bergerak memajukan ekonomi umat di Sulawesi Selatan,” katanya.
“Untuk tahap awal LEU memulai
dengan membantu warung tradisional di daerah pedesaan, kemudian LEU akan
melangkah ke industri pembinaan UMKM, pertanian, peternakan, kelautan dlan
lainnya. LEU tidak menggunakan dana
APBN/ APBD sehingga diharapkan lahir pedagang- pedagang yang memiliki sifat
jujur, tanggung jawab, disiplin dan kerja keras agar pinjaman barang bisa dinaikkan jumlahnya, kesejahteraan meningkat
dan fasilitas pinjaman bisa digunakan pemilik warung lainnya,” urainya.
Sosialisasi program LEU dihadiri
lebih dari 200 kordinator warung yang terdiri dari Bumdes dan koperasi
difasilitasi oleh Makmur Mustaqim,SH Daeng Lewa seorang politisi yang banting
stir hijrah ke gerakan ekonomi umat.
Program LEU seharusnya baru
dilaksanakan di Sulawesi Selatan awal tahun 2022 karena masih fokus di Pulau
Jawa. Namun karena kehadiran Randy Andi Kasim, cucu pahlawan nasional H.
Pajonga Daeng Ngalle ke Kantor LEU di Grogol, Jakarta Barat dengan penuh
harapan ingin memajukan ekonomi masyarakat Sulsel sehingga Managemen LEU
memutuskan untuk datang ke Sulsel,”ujar M. Harry Naldi sebagai Dirut PT. Kunci
Nusantara Cemerlang.
“Dan ternyata antusias masyarakat
Sulawesi Selatan luar biasa bahkan sudah ada 12 kabupaten/ kota yang siap
menjadi investor dan pengelola Distribution Centre (DC) yaitu Makasar, Takalar,
Sidrap, Gowa, Enrekang, Wajo, Luwu, Bulukumba, Jeneponto, Bantaeng, Luwu,
Palopo, tapi kita mulai dari 3 DC dulu di Makasar, Takalar dan Sidrap,” jelas
Naldi yang juga tokoh aktivis PII & HMI, ESQ Pusat.
Salah satu peserta Daeng Ngunjung
yang juga pengusaha grosir mengatakan LEU solusi problem ekonomi yang dikuasai
kartel/ mafia sehingga kami para pelaku tidak bisa maju dan berkembang. 3
kelebihan DC Leu MUI yaitu harga bersaing, barang order melalui aplikasi IT dan
diantar sampai warung dan memberikan konsinyasi barang sampai 50% tanpa agunan
dan tanpa riba. “Kami berharap program
ini benar- benar bisa segera direalisasikan di Sulsel,” harapnya.
Kepala Dinas Perikanan dan
Kelautan Sirajudin Saraba mengatakan kehadiran LEU bukan hanya membangkitkan
ekonomi di ritel & grosir tapi juga memberikan solusi bagi kemajuan di
sektor pertanian & kelautan.
“Dan program LEU ini sangat
mendukung program kerja Bupati Takalar. Kami dari pemerintah sangat berterima
kasih kepada Bapak Makmur Mustaqim Daeng Lewa yang sudah memfasilitasi
kehadiran LEU MUI Pusat ke Takalar,” katanya.
Naldi yang juga Pendiri Pergerakan
Muballigh Indonesia menyampaikan moto pembangkit semangat perjuangan buat para
Person In Charge (PIC), DC dan kordinator warung se Sulsel: Sekali layar terkembang, pantang biduk surut
ke pantai, kuallengi tallanga nato walia.

Social Header