Oleh Al Faqīr ilā Allāh Ta'ālā, Muh. Thoriq Aziz Kusuma
Selasa, 17 November 2020 | 17:14
![]() |
| Jalan Memperoleh Iman. |
Perantara-Nasional.Com, Kabupaten
Boyolali – Pertanyaan: Ustaz Thoriq, mohon penjelasannya tentang bab iman
dan jalan memperolehnya?
Jawaban : Subjek ketuhanan
bukanlah subjek persepsi mental manusia. Adalah mungkin bagi seseorang untuk
mencapai dengan pandangan rasionalnya tentang bukti keberadaan Tuhan, dan
membuktikan apa yang tidak cocok untukNya dari tauhid, tetapi tidak mungkin
untuk akal manusia sebagai sebuah objek dengan kecerdasan, persepsi, kemampuan
dan energinya untuk mencapai realisasi diri ilahi dan pengetahuan tentang
kebenaran dan hakikatNya.
Saya menegaskan bahwa Alquran
telah membeberkan fakta, bahwa pikiran akal manusia tidak mampu memahami diri
ilahi yang mana merupakan tiang penggerak dalam masalah keyakinan kepada Tuhan
Yang Maha Esa, dan ini tidak berarti meremehkan nilai akal pikiran atau
penurunan statusnya, tetapi lebih pada realitas materi dan kebenarannya
mengenai sifat akal pikiran dan kapasitasnya dan batas-batas yang mampu dan
tidak mampu. Sifat akal manusia adalah tidak mampu memahami banyak fakta dan
fenomena yang dihadapinya siang dan malam, yang pertama adalah kebenaran
"jiwa manusia" yang paling dekat dengannya, serta realitas
"materi", kebenaran cahaya, kebenaran gravitasi, dan kebenaran atom
yang menjadi andalan penafsiran ilmiah kontemporer untuk fenomena sensorik apa
pun.
Namun perlu saya garis bawahi di
sini, bahwa naluri seseorang adalah jalan pertama menuju keyakinan dan ilmu
akan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa. Yang dimaksud dengan innateness adalah apa
yang dirasakan setiap orang dari kecenderungan untuk percaya pada kebenaran dan
kemauan untuk kebaikan, dan mengakui keberadaan Tuhan yang menciptakan alam
semesta dan menguasainya.
Perasaan atau kesadaran yang kuat
akan keberadaan “Tuhan” ini merupakan takdir bersama di antara semua orang,
dari mana tidak ada manusia yang kosong sejak awal penciptaan hingga Tuhan
mewariskan bumi kepada penghuninya (manusia).
Akal pikiran adalah cahaya
kehormatan Tuhan Yang Maha Esa, yang dengannya manusia dapat membedakan benda
mati dan yang hidup, dan menjadikannya dasar untuk mempercayai hukum Islam.
Dengan akal, seseorang membedakan antara yang baik dan yang jahat, petunjuk dan
kebodohan, dan yang benar dan yang batil.
Nabi, Saw., menjelaskan dan
memperingatkan kita tentang masalah penyimpangan dan kerusakan naluri dan akal
manusia akibat setan, khayalan orang tua, atau gangguan intelektual dan
lingkungan mental. Nabi, Saw., bersabda atas otoritas Tuhannya:
إِنِّى خَلَقْتُ
عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ
فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ
وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِى مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا
“Sesungguhnya
Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan lurus. Setelah itu
datanglah setan-setan yang menggelincirkan mereka dari agama mereka dan
mengharamkan atas mereka apa yang sebenarnya Allah halalkan bagi mereka. Juga
menyuruh mereka agar menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan
keterangan tentangnya”. [HR. Muslim
dari ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu]
Ada hal-hal yang dapat
mengantarkan kita pada keimanan dan memperkuat iman kepada Allah, Swt.,
diantaranya memahami asmaul husna, nama-nama Tuhan yang terindah dalam
Al-Qur'an dan Sunnah, mentadabburi Alquran, mempelajari biografi Nabi, Saw.,
berpikir tentang alam semesta dan melihat diri sendiri, meningkatkan zikir
kepada Allah dan do'a yang merupakan ruh beribadah bagi seorang muslim, dan
seterusnya. Wa Allāhu a'lam wa a'lā.

Social Header