Apa Itu Ittibā' dan Muḥāsabah al Nafs?[1]
Perantara-Nasional.Com,
– Ittibā' dan Muḥāsabah
al Nafs merupakan ajaran dari Nabi kita Muhammad, Saw. Maka semestinya kita
tahu dan memahami kedua hal tersebut.
Apa
itu Ittibā' dan Muḥāsabah al Nafs?
Ittibā' ialah
mengikuti keteladanan Nabi, Saw., dalam hal keyakinan, perkataan dan berbuatan,
serta penjauhan yang disertai dengan niat dan kemauan dalam hal-hal tersebut.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ
كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah." [QS. Al-Ahzab Ayat 21]
Rasulullah, Saw., adalah model percontohan dan keteladanan yang paling agung bagi seorang Muslim.
Tanda ittibā'
Nabi, Saw., adalah sampainya seseorang pada kebahagiaan. Bahwa Rasulullah,
Saw., adalah ciptaan yang paling sempurna dengan segala perilaku dan sifat yang
bersumber dari kelapangan dada dan luasnya hati.
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ
صَدْرَكَ
"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?," [QS. al-Insyirah Ayat 1]
Dengan jalan
mengikuti Nabi, Saw., maka seseorang hamba akan memperoleh kelapangan dada dan
kenikmatan jiwa.
وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا۟
"Dan
jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk."
[QS. An-Nur Ayat 54]
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ
الْإِيْمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سَوَاهُمَا،
“Tiga
sifat yang jika ada pada diri seseorang, ia akan meraih manisnya iman: (1)
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya.”
[HR. Muslim]
Ittibā'
atau mengikuti Nabi, Saw., adalah sebab kebahagiaan, sebagaimana meninggalkan
untuk mengikutinya adalah sebab dari sebuah kesengsaraan hidup.
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ
فَانْتَهُوا
"Apa
yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu,
maka tinggalkanlah." [QS. Al-Hasyr Ayat 7]
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ
فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
"Barangsiapa
yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa
yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi
pemelihara bagi mereka." [QS.
An-Nisa' Ayat 80]
وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
"Dan
barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat
kemenangan yang besar." [QS.
Al-Ahzab Ayat 71]
Lebih dari
itu semua, bahwa kunci surga itu ada pada mengikuti sunah.
كُلُّ
أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ
وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ
أَبَى
"Setiap
umatku masuk surga selain yang enggan, " Para sahabat bertanya,
"Wahai Rasulullah, lantas siapa yang enggan?" Nabi menjawab:
"Siapa yang taat kepadaku, masuk surga dan siapa yang membangkang aku
berarti ia enggan."
[HR. al Bukhari]
Mengikuti
Nabi, Saw., adalah cara agar dicintai oleh Allah, Swt.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ
اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Katakanlah: "Jika kamu
(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
[QS. Ali 'Imran Ayat 31]
Muḥāsabah al
Nafs adalah tindakan mengintrospeksi diri, sebuah usaha koreksi dan
pengamatan atas diri sendiri.
Introspeksi
diri memiliki tempat penting dalam Islam. Tanpa introspeksi, kita tidak bisa
berdiri di atas iman yang benar. Tanpa melakukan analisis diri, kita tidak
dapat memurnikan diri kita sendiri untuk memilih jalan menuju surga.
Introspeksi diriadalah pengamatan diri yang mengarah pada identifikasi dan
koreksi pada kesalahan-kesalahan yang ada secara teratur, dan melindungi kita
dari egoisme, kesombongan dan niat buruk.
Introspeksi
berfungsi sebagai cermin, mencerminkan diri kita yang sebenarnya. Saat kita
mengenal diri sendiri dan mengenali kesalahan, maka kita dapat mengoreksinya
dan berbenah diri.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ
نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا
تَعْمَلُونَ
"Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." [QS.
Al-Hasyr ayat 18]
Ibnu al
Qayyim berkata dalam Igāṡah al Lahfān Juz 1 halaman 145, bahwa ayat di atas
menunjukkan kewajiban menjalankan Muḥāsabah al Nafs adalah tindakan
mengintrospeksi diri sendiri. Seseorang semestinya berpikir dan melihat ada
yang telah ia kerjakan untuk kepentingan akheratnya? Apakah ia telah berbuat
amal-amal kebaikan yang akan menyelamatkannya ataukah amal-amal keburukan yang
akan membuatnya mendapat hukuman.
Muḥāsabah al
Nafs ada dua macam, pertama sebelum beramal dan yang kedua setelah
beramal.
Sebelum
beramal seorang hamba seyogyanya berpikir terlebih dahulu apakah amalnya itu
sesuai dengan kitabullah atau tidak? Sesuai dengan sunah Nabi, Saw., atau
tidak? Apakah amal itu jika dikerjakan lebih baik dari pada ditinggalkan atau
sebaliknya?
Yang kedua
adalah introspeksi setelah beramal. Ini menjadi 4 macam.
1.
Amal ketaatan yang sudh dikerjakan apakah sudah sesuai dengan yang dimaksudkan
Allah, Swt., atau belum? Apakah ada yang kurang.
2.
Menintrospeksi diri terhadap apa yang dilarang.
3.
Menintrospeksi diri terhadap sebuah amal yang mana bila ditinggalkan itu lebih
baik.
4.
Menintrospeksi diri terhadap amal yang dibolehkan dan mengandung banyak
manfaat.
Umar Ibn
Khattab, Ra., berkata
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا
أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، فَإِنَّهُ أَهْوَنُ فِي الْحِسَابِ غَدًا
أَنْ تُحَاسِبُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ
"Bermuhasabahlah
kalian pada diri kalian sebelum amal kalian dihisab, timbanglah amal diri
kalian sebelum kalian ditimbang. Sesungguhnya hal itu lebih ringan bagi kalian
besok di akhirat dengan kalian hisab diri kalian pada hari ini."
[Igāṡah al Lahfān]
Beberapa
Peristiwa yang Dapat Dijadikan Pelajaran dan Hikmah
1.
Wabah Corona
Adalah iman
kepada qadhā dan takdir Allah, Swt., merupakan salah satu dari rukun iman yang
enam. Terlebih merupakan manifestasi dari iman kepada Allah, Swt. Mewakili
ketetapan dan undang-undang dasar mengenai iman kepada takdir, yakni firman
Allah, Swt., Q.S. Al-Qamar: 49.
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya
Kami menciptakan segala sesuatu dengan al-qadar (takdir).”
Oleh ‘Ubādah
Ibn Al-Shāmit mengatakan kepada anaknya,
يا بنى إنك لن تجد طعم
حقيقة الإيمان حتى تعلم أن ما أصابك لم يكن ليخطئك وما أخطأك لم يكن ليصيبك سمعت
رسول الله صلي الله عليه وسلم يقول : « إن أول ما خلق الله القلم، فقال له : اكتب.
قال : رب وماذا أكتب ؟ قال : اكتب مقادير كل شيء حتى تقوم الساعة ». يا بنى إني
سمعت رسول الله صلي الله عليه وسلم يقول : « من مات على غير هذا فليس منى
»
(Wahai
anakku sayang, sesungguhnya kamu tidak akan pernah mendapati rasa hakikat
keimanan sehingga kamu mengetahui bahwa apa yang menimpamu (yang sudah ditakdirkan)
maka tidak akan pernah meleset darimu dan apa yang belum menimpamu (yang belum
ditakdirkan) maka tidak akan terkena kepadamu, aku telah medengar Rasulullah,
Saw., bersabda: “Sesungguhnya pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena,”
lalu Ia berfirman kepadanya: “Tulislah”, pena bertanya: “Wahai Rabbku, apa yang
aku tulis?”, Dia berfirman: “Tulislah takdir-takdir setiap sesuatu sampai
dibangkitkan hari kiamat.” ‘Ubādah berkata: ”Wahai anakku sayang, sungguh aku
telah mendengar Rasulullah, Saw., bersabda: “Barangsiapa yang meninggal di atas
(keyakinan) selain ini, maka ia bukan dariku.”) [HR.
Ahmad dan Abu Dawud]
Bersabda
Rasulullah, Saw., kepada Ibnu ‘Abbas, Ra.,
واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد
كتبه الله لك، ولو اجتمعوا على أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك
رفعت الأقلام وجفت الصحف
“Dan
ketahuilah, bahwa seluruh makhluk (di dunia ini), seandainya pun mereka bersatu
untuk memberikan manfaat (kebaikan) bagimu, maka mereka tidak mampu
melakukannya, kecuali dengan suatu (kebaikan) yang telah Allah tuliskan
(takdirkan) bagimu, dan seandainya pun mereka bersatu untuk mencelakakanmu,
maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan suatu (keburukan) yang
telah Allah tuliskan (takdirkan) akan menimpamu, pena (penulisan takdir) telah
diangkat dan lembaran-lembarannya telah kering.”
[HR. Ahmad]
Yang
seharusnya bagi seorang Muslim untuk menyakini dengan keyakinan yang penuh,
bahwasanya tiada ada fi’il atau amal perbuatan/aktivitas kecuali milik Allah,
Swt., bahwa sesungguhnya segala yang terjadi, yang tidak terjadi dan yang akan
terjadi di alam jagad raya ini, adalah
fi’il atau perbuatan Allah, Swt., bahwa sesungguhnya Allah, Swt. telah
menetapkan fi’il ini sejak zaman azali (dahulu kala).
Terdapat
hikmah yang agung, atau bisa juga dikatakan blessing in this guise, hikmah
tersembunyi, pada masalah qadhā dan takdir ini, yakni hikmah cobaan atau ujian
terhadap masalah rida kepada Allah, Swt. Manusia tidak mengetahui apa yang
ditetapkan untuknya besuk, oleh sebab itu sudah menjadi haknya untuk berharap,
dan berusaha untuk mewujudkan apa yang ia inginkan dengan jalan yang masyrū'
(sah) dan diperbolehkan. Bahwa tatkala tidak terwujud apa yang menjadi
cita-cita dan impiannya, dan berbeda apa yang disusun makhluk (manusia) dengan
apa yang dikehendaki Sang Khalik, maka akan nampak iman yang hakiki. Jika apa
yang disusun dan ditetapkan Sang Khalik lebih dicintai oleh makhluk ketimbang
apa yang ia susun untuk dirinya sendiri, maka itulah mukmin yang saleh. Jika ia
mencaci, enggan dan menolak, serta membenci apa yang disusun dan ditetapkan
Sang Khalik, maka itulah pemaksiat yang pendek akal (bodoh). Dan tindakan
seseorang yang tidak rela serta membenci ketetapan Sang Khalik mengakibatkan
dirinya keluar dari millah (agama).
Iman kepada
qadhā dan takdir adalah ekspresi nyata iman kepada Allah, Swt. Jika kamu
beriman kepada wujud Allah, Swt., kepada
sifat-sifat kesempurnaan, kebesaran dan keindahanNya, maka kamu wajib beriman
kepada konsekuensi dari sifat-sifatNya, yakni segala perbuatan-perbuatanNya,
Swt. Iman kepada perbuatan-perbuatan Allah, Swt., ialah dengan beriman atau
menyakini bahwa sesungguhnya tidak ada perbuatan kecuali milik Allah, Swt.,
semata, serta rida atas apa yang berasal dariNya di alam semesta ini, sehingga
betul-betul menjadi hamba yang rabbani.
Tidak
dinafikan antara keyakinanmu bahwa perbuatan adalah milik Allah semata, dan
keberadaanmu yang dapat memilih dan berkeinginan. Sesungguhnya pilihan manusia
dan keinginannya adalah sebuah kenyataan yang jelas dan nyata yang tidak dapat
dipungkiri oleh orang yang berakal. Dan barangsiapa mengingkarinya, maka ia
telah berdusta kepada kenyataan yang jelas dan nyata, serta berdusta kepada
nash-nash Al-Quran, yang mana telah ditetapkan bagi manusia untuk memiliki
kemampuan, keinginan dan pilihan.
Allah, Swt.,
berfirman:
وَهَدَيْنٰهُ النَّجْدَيْنِ ۚ
"Dan
Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)." [Q.S.
Al-Balad : 10]
مِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ
الْاٰ خِرَةَ ۚ
"Di
antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada (pula)
orang yang menghendaki akhirat." [Q.S. Ali
'Imran : 152]
Maka yang
sahih pada persoalan ini adalah kamu menetapkan pada dirimu perbuatan dan
pilihan, dan kamu berkeyakinan bahwa Allah, Swt., adalah yang berbuat dan yang memiliki segala
urusan, segala urusan tidaklah keluar dari wilayah kekuasaanNya.
Takdir adalah
rahasia Allah, Swt., pada ciptaanNya. Oleh sebab itu sebagian orang-orang arif,
seperi Abū 'Abbās Al-Harītsī menyatakan, barangsiapa melihat ciptaan dengan
kacamata syariah maka akan melahirkan kebencian. Dan barangsiapa melihatnya
dengan kacamata hakikat akan melahirkan pemakluman. Orang yang arif akan
senantiasa berpandangan tajam terhadap ciptaanNya. Allah, Swt., Maha Tinggi dan Maha Mengetahui.
2.
Sedekah terbaik adalah dalam kondisi susah
Sesungguhnya
sedekah di masa krisis Corona merupakan amalan sedekah yang paling agung, dan
membantu orang-orang yang membutuhkan di musim wabah Corona merupakan wājib
al-yaum, sebuah kewajiban saat ini.
Semua orang
diseluruh dunia, tanpa terkecuali, menyaksikan munculnya pandemi virus Corona
jenis baru dan membawa dampak ekonomi bagi semua orang baik di level bawah
maupun atas. Utamanya mereka yang miskin, berpenghasilan terbatas dan pemilik
usaha bisnis kecil-kecilan serta mereka yang tidak memiliki penghasilan
permanen, sangat merasakan beratnya ketersandungan hidup di musim pandemi ini.
Sebuah
kewajiban saat ini dalam krisis pandemi Corona adalah memeriksa masing-masing dari kita,
mengunjungi dan meninjau kondisi keluarga, kenalan, tetangga dan pekerja atau
anak buah kita, kemudian untuk kita beri bantuan kepada mereka baik berupa uang
dan makanan sebatas kemampuan kita. Karena pahala sedekah sangatlah agung,
terlebih di musim Corona ini akan lebih agung lagi.
Dalam Shahīh
Muslim, kitab Zakat, nomor hadis 1713 mengenai sedekah yang paling utama adalah
saat kaya dan pelit.
حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ
بْنِ الْقَعْقَاعِ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَتَى رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
أَيُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ فَقَالَ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ
تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى وَلَا تُمْهِلَ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ
الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلَانٍ كَذَا وَلِفُلَانٍ كَذَا أَلَا وَقَدْ كَانَ
لِفُلَانٍ
Telah
menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarīr
dari 'Umārah bin Al-Qa'qa' dari Abu Zur'ah dari Abu Hurairah ia berkata;
Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah, Saw., dan bertanya, "Wahai
Rasulullah, sedekah yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?" maka
beliau pun menjawab: "Yaitu kamu bersedekah saat sehat, kikir, takut
miskin dan kamu berangan-angan untuk menjadi hartawan yang kaya raya. Dan janganlah
kamu lalai hingga nyawamu sampai di tenggorokan dan barulah kamu bagi-bagikan
sedekahmu, ini untuk si Fulan dan ini untuk Fulan. Dan ingatlah, bahwa harta
itu memang untuk si Fulan."
Umumnya
manusia di saat dirinya sehat, ia akan sulit sekali mengeluarkan sebagian
hartanya untuk disedekahkan, karena ia menginginkan stable condition, keadaan
hartanya tidak berkurang dan stabil, dan juga takut miskin.
Oleh sebab
itu, adalah sangat dianjurkan mengeluarkan sebagian harta untuk disedekahkan di
saat-saat tersebut dan sedekahnya menjadi sedekah yang paling utama (afḍal).
Akan halnya
di saat kondisi sakit, seseorang akan lebih tanggap dan sensitif terhadap
akhirat dan the world does not exist anything, dunia terasa tidak ada apa-apa,
sehingga sangat mudah untuk mengeluarkan sedekah, berbeda halnya di saat
kondisi sehat, setan lebih menang untuk menakut-nakuti manusia akan tertimpa
kemiskinan.
Sedekah juga
merupakan sebab mendapat keridaan Allah,Swt., sebab turunnya rahmatNya, dan
menjaga hamba dari kemalangan bala, penyakit dan segala penghabisan.
صَنَائِعُ الْمَعْرُوفِ تَقِي مَصَارِعَ السَّوْءِ ، وَالصَّدَقَةُ
خَفِيًّا تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ
“Perbuatan
kebaikan menahan kejadian buruk dan sedekah yang tersembunyi (dilakukan secara
diam-diam) memadamkan kemurkaan Rabb." [HR.
Al-Thabrani]
Sedekah memiliki
efek yang menakjubkan di dalam menolak segala macam kemalangan, musibah dan
pagebluk.
Sebagaimana
wasiat Nabi Yahya, As., untuk Bani Israel,
وَآمُرُكُمْ بِالصَّدَقَةِ فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ
أَسَرَهُ الْعَدُوُّ فَأَوْثَقُوا يَدَهُ إِلَى عُنُقِهِ وَقَدَّمُوهُ
لِيَضْرِبُوا عُنُقَهُ فَقَالَ أَنَا أَفْدِيهِ مِنْكُمْ بِالْقَلِيلِ
وَالْكَثِيرِ فَفَدَى نَفْسَهُ مِنْهُمْ
“Dan
Aku memerintah kalian untuk bersedekah, seperti perumpamaan seorang yang
ditawan musuhnya, lalu tangannya di ikat di lehernya, kemudian ia dibawa untuk
dipenggal lehernya, lalu ia berkata : saya mau menebus diriku dengan tebusan
yang berjumlah sedikit dan banyak. Akhirnya ia berhasil menebus dirinya dari
mereka” [Shahīh Al-Jāmi’].
Sejatinya
seorang hamba tidak akan sampai kepada hakikat kebajikan melainkan dengan jalan
sedekah.
Firman Allah,
Swt., dalam QS. Ali 'Imran 3: Ayat 92 :
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗ
وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ
"Kamu
tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang
kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah
Maha mengetahui."
Pentingnya
Muḥāsabah al Nafs dalam Kehidupan
Sehari-hari
1.
Orang yang mengintrospeksi dirinya ia akan mengetahui tentang kesalahan
jiwanya, dan siapapun yang tidak melihat cacat dari dirinya maka tidak dapat
dan tahu cara menghilangkannya.
2.
Bukti rasa taut kepada Allah, Swt.,dan mempersiapkan bertemu denganNya.
3.
Menjelaskan kepada orang yang beriman hakikat orang yang beruntung dan rugi.
4.
Introspeksi diri di dunia membuat keuntungan untuk keperluan akherat.
5.
Introspeksi diri adalah bagian dari perintah Allah, Swt., kepada orang-orang
beriman.
6.
Jauh dari perbuatan lalai, maksiat dan dosa.
7.
Membantu orang Mukmin untuk mencapai kewajiban dan amalan-amalan sunah.
8.
Introspeksi diri termasuk buah dari memperoleh cinta dan rida Allah, Swt.
9.
Semakin tahu dan mengenal akan hak-hak Allah, Swt.
10.
Dengan introspeksi diri membuat hati semakin baik dan menghindari dari
kerusakan hati.
Kata-kata
Motivasi untuk Selalu Produktif di Tahun 2021
Islam yang
kita senandungkan adalah “Islam yang mengindahkan kegiatan pembangunan, bekerja
dan berkarya unggul. Bukan islam yang terlena dengan pertikaian dan perdebatan
yang tiada henti.
Karena
sesungguhnya jika Allah menghendaki kejelekan kepada sebuah bangsa atau kaum,
maka Allah sibukkan bangsa atau kaum tersebut dengan perdebatan yang tiada
henti dan menghalangi mereka dari bekerja dan berkarya unggul.
Islam akan
senantiasa menstimulasi setiap muslim untuk bekerja dan bergerak sebagai bentuk
upaya mencari sebagian karunia Allah. Sehingga dengan bekerja tersebut, akan
mengantarkan seorang muslim kepada kehidupan yang lebih terhormat dan bermartabat.
Di samping itu ia juga bisa berkontribusi dan berperan aktif dalam memperkuat
daya ekonomi dan nama baik umat dan bangsa.
Mengutip
Pidato Bapak Pendiri Bangsa, Ir. Soekarno : " Yang mau hidup harus makan,
yang dimakan hasil kerja, jika tidak bekerja tidak makan, jika tidak makan
pasti mati. Itulah undang-undangnya dunia, itulah undang-undangnya hidup. Mau
tidak mau semua makhluk harus menerima undang-undang ini. Terimalah
undang-undang ini dengan jiwa yang besar dan merdeka, jiwa yang tidak menengadah
melainkan kepada Tuhan."
Sejatinya
dalam banyak ayat Al-Quran dan Hadist Nabi menyebutkan bahwa perhatian
Islam selalu fokus menstimulasi umatnya untuk rajin bekerja. Karena Islam
memandang rajin bekerja merupakan akhlak yang sangat mulia. Firman Allah SWT :
وقل اعملوا فسيرى الله عملكم ورسوله والمؤمنون
“Dan
katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin
akan melihat pekerjaanmu itu.” (At-Taubah:
105)
Ayat ini
mensyariatkan kepada umat Islam untuk beramal atau bekerja, dan melarang keras
mereka untuk menganggur. Umat Islam harus berusaha bekerja dan lebih mulia lagi
menciptakan lapangan pekerjaan untuk mereka yang membutuhkan pekerjaan. Selain
itu ayat tersebut menuturkan kepada kita, bahwa selain diri kita sendiri ada tiga
yang lain yang melihat, memperhatikan dan menghargai amal perbuatan dan
pekerjaan kita. Pertama yaitu Allah SWT, Dialah Sang Khalik yang
akan menetapkan balasan yang pantas untuk kita terima baik di dunia maupun di
akherat kelak, dari amal pekerjaan kita. Yang kedua adalah Rasulullah
SAW,beliau juga akan menilai dan menghargai amal perbuatan kita yang nantinya
juga turut bersaksi di hadapan Allah SWT. Dan yang ketiga ialah orang-orang
beriman yang akan menilai dan menghargai pekerjaan kita sehingga akan
memberikan upah dan bayaran yang sesuai dengan pekerjaan kita di dunia ini
serta turut bersaksi terhadap amal ibadah dan pekerjaan kita di hadapan Allah
kalak di akherat. Firman Allah SWT:
من عمل صالحا من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة ولنجزينهم أجرهم بأحسن ما كانوا يعملون
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh,
baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan
Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri
balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan.” (An-Nahl: 97)
هو الذي جعل لكم الأرض ذلولاً فامشوا في مناكبها وكلوا من رزقه وإليه
النشور
“Dialah
Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya
dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali
setelah) dibangkitkan.” (Al Mulk: 15)
Muatan yang
terkandung dalam ayat diatas ialah perintah yang tegas dari Allah SWT kepada
manusia untuk mencari rizeki, dan berusaha mendapatkan rizeki dengan jalan
bekerja tanpa berleha-leha. Karena sesungguhnya Allah SWT menjadikan bumi itu
mudah diatur untuk manusia, supaya manusia berusaha bekerja dan bergerak demi
mendapatkan rezeki.
يا أيها الذين آمنوا إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر
الله وذروا البيع
ذلكم خير لكم إن كنتم تعلمون * فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله
واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون
“Wahai
orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum´at, maka
bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang
demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan
shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan
ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Al-Jumu'ah:
9-10)
Secara
eksplisit ayat di atas memberikan lampu hijau kepada manusia untuk mengadakan
jual-beli dan perdagangan setelah usai melaksanakan sholat Jumu'ah, dengan
tujuan supaya manusia mendapat profit, margin, nilai manfaat atau keuntungan,
serta supaya manusia memperoleh karunia Allah dengan jalan bergerak, giat
bekerja keras, berkarya dan dengan melalukan dari kegiatan perdagangan.
يا أيها الإنسان إنك كادح إلى ربك كدحا فملاقيه
“Wahai
manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu,
maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (Al-Insyiqaq:
6)
Sesungguhnya
pondasi kehidupan dunia ini berdiri atas prinsip bekerja, bergerak, membanting
tulang, berusaha dan mengambil sebab-sebab agar memperoleh rezeki. Bahwa
manusia yang sudah bekerja keras, membanting tulang, bergerak dan berusaha,
maka di akhir jalan ikhtiarnya itu ia akan memperoleh rezekinya.
Islam akan
senantiasa menstimulasi setiap muslim untuk bekerja, bergerak dan berkarya
sebagai bentuk upaya mencari sebagian karunia Allah. Sehingga dengan bekerja
tersebut, akan mengantarkan seorang muslim kepada kehidupan yang lebih
terhormat dan bermartabat. Di samping itu ia juga bisa berkontribusi dan
berperan aktif dalam memperkuat daya ekonomi dan nama baik umat dan bangsanya.
Dalam buku miliknya
Ali Ibn Sulthan Muhammad Al-Qaarii yang berjudul Mirqaatul Mafaatiih
Syarh Misykaatil Mashaabiih (Jalan Atau Tangga Pembuka, Penjelasan
dari Lentera Pemancar Cahaya), bab zakat, sub bab: “Perihal siapa yang tak
layak meminta-minta dan siapa yang layak?” Ada sebuah Hadist Nabi SAW sangat
bermakna sekali, berkaitan dengan pentingnya bekerja keras, membanting tulang
dan berusaha mencari rezeki.
عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ اَنَّ رَجُلاً مِنَ اْلاَنْصَارِ اَتَى
النَّبِيَّ ص يَسْأَلُهُ فَقَالَ: اَمَا فِى بَيْتِكَ شَيْءٌ؟ قَالَ: بَلَى حِلْسٌ
نَلْبَسُ بَعْضَهُ، وَ نَبْسُطُ بَعْضَهُ وَ قَعْبٌ نَشْرَبُ فِيْهِ مِنَ
اْلمَاءِ، قَالَ: ائْتِنِى بِهِمَا. فَاَتَاهُ بِهِمَا، فَاَخَذَهُمَا رَسُوْلُ
اللهِ ص بِيَدِهِ وَ قَالَ: مَنْ يَشْتَرِى هذَيْنِ؟ قَالَ رَجُلٌ: اَنَا آخُذُهُمَا
بِدِرْهَمٍ. قَالَ: مَنْ يَزِيْدُ عَلَى دِرْهَمٍ؟ مَرَّتَيْنِ اَوْ ثَلاَثًا.
قَالَ رَجُلٌ: اَنَا آخُذُهُمَا بِدِرْهَمَيْنِ. فَاَعْطَاهُمَا اِيَّاهُ، وَ
اَخَذَ الدّرْهَمَيْنِ فَاَعْطَاهُمَا اْلاَنْصَارِيَّ، وَ قَالَ: اِشْتَرِ
بِاَحَدِهِمَا طَعَامًا فَانْبِذْهُ اِلَى اَهْلِكَ، وَ اشْتَرِ
بِاْلآخَرِ قَدُّوْمًا فَائْتِنِى بِهِ، فَاَتَاهُ بِهِ فَشَدَّ فِيْهِ
رَسُوْلُ اللهِ ص عُوْدًا بِيَدِهِ، ثُمَّ قَالَ لَهُ: اِذْهَبْ
فَاحْتَطِبْ وَ بِعْ، وَ لاَ اَرَيَنَّكَ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا.
فَذَهَبَ الرَّجُلُ يَحْتَطِبُ وَ يَبِيْعُ، فَجَاءَ وَ قَدْ اَصَابَ
عَشْرَةَ دَرَاهِمَ، فَاشْتَرَى بِبَعْضِهَا ثَوْبًا وَ بِبَعْضِهَا طَعَامًا، فَقَالَ
رَسُوْلُ اللهِ ص: هذَا خَيْرٌ لَكَ مِنْ اَنْ تَجِىءَ اَلْمَسْأَلَةُ
نُكْتَةً فِى وَجْهِكَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ. اِنَّ اْلمَسْأَلَةَ لاَ تَصْلُحُ
اِلاَّ بِثَلاَثَةٍ: لِذِى فَقْرٍ مُدْقِعٍ اَوْ لِذِى غُرْمٍ مُفْظِعٍ اَوْ دَمٍ
مُوْجِعٍ.
رواه أبو داود
“Dari Anas bin Malik, bahwasanya ada seorang laki-laki Anshar
datang kepada Nabi SAW lalu minta kepada beliau, maka beliau bertanya, “Apakah
di rumahmu tidak ada sesuatu ?”. Orang tersebut menjawab, “Ya, ada pakaian
(pelana) unta yang sebagiannya kami pakai (sebagai tutup) dan sebagiannya kami
hamparkan (sebagai tikar) dan sebuah bejana yang biasa kami minum air
dengannya”. Nabi SAW bersabda, “Bawalah kepadaku dua barang itu”. Kemudian
orang tersebut datang kepada beliau dengan membawa dua barang tersebut. Lalu
Rasulullah SAW mengambil dua barang itu dengan tangan beliau dan bersabda,
“Siapa yang mau membeli dua barang ini ?”. Lalu ada seorang laki-laki berkata,
“Saya mau mengambil dua barang itu dengan satu dirham”. Rasulullah SAW bersabda
lagi, “Siapa yang mau menambah dari satu dirham ?”. Beliau bersabda demikian
dua atau tiga kali. Lalu ada seorang laki-laki berkata, “Saya mau mengambil
kedua barang itu dengan dua dirham”. Maka Rasulullah SAW memberikan dua barang
itu kepada orang tersebut. Setelah Rasulullah SAW menerima uang dua dirham
tersebut lalu beliau berikan kepada orang Anshar yang punya barang tersebut
sambil bersabda, “Belilah makanan dengan uang yang satu dirham ini lalu berikan
kepada keluargamu, dan yang satu dirham belikan kapak lalu bawalah
kepadaku. Kemudian orang laki-laki tersebut datang kepada beliau
dengan membawa kapak. Maka Rasulullah SAW memasang pegangan kapak tersebut
dengan sebatang kayu dengan tangan beliau, kemudian bersabda, “Pergilah
mencari kayu bakar dan juallah ! Dan jangan sampai aku melihat kamu
selama lima belas hari”. Lalu orang tersebut pergi untuk mencari kayu bakar dan
menjualnya. Kemudian (setelah lima belas hari) orang laki-laki tersebut
datang kepada beliau dan sudah mendapatkan hasil sepuluh dirham, yang sebagian
untuk membeli pakaian dan yang sebagian untuk membeli makanan. Maka
Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Yang demikian itu lebih baik bagimu
dari pada kamu datang meminta-minta, karena meminta-minta itu akan membekaskan
noda di wajahmu pada hari qiyamat. Sesungguhnya minta-minta itu tidak
pantas dilakukan kecuali oleh tiga golongan, yaitu orang yang sangat faqir,
atau orang yang terbeban hutang, atau orang yang harus membayar diyat (tebusan)
yang sangat memberatkan”. (HR. Abu Dawud)
Hadits
panjang di atas jelas sekali merupakan stimulasi dan anjuran langsung dari
Rasulullah SAW untuk bekerja meskipun dalam kondisi yang seba sulit, serta anjuran
untuk menjahui kehinaan dan sikap meminta-minta. Karena sejatinya bekerja
adalah perbuatan yang mulia, meskipun perolehannya secara kasat mata tak
seberapa.
Islam sangat
menghormati sekali kepada siapa yang mau bekerja, bahkan Islam amat sangat menghormati
perilaku bekerja (tindakan dan sikap bekerja). Dalam sebuah Hadist, Nabi SAW
bersabda:
إِن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ
اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا
“Jika
tegak hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah
tunas. Maka jika ia mampu sebelum tegak hari kiamat untuk menanamnya,
maka tanamlah.” (HR Al-Bukhari di Al-Adab Al-Mufrod)
Menurut
pembacaan guru saya yang mulia, Prof. Dr. Yusuf Al-Qardhawi, Presiden Persatuan
Internasional Ulama Muslim, Hadist tersebut menceritakan bahwa jika kiamat akan
tegak dan di tangan salah seorang dari kita ada sebuah tunas (batang kayu bakal
tumbuhan), bahwa jika ia mampu untuk memanaamnya, maka menurut perintah
tersurat dari Hadist ini, tanamlah! Padalah kiamat akan tegak, dan secara
logika siapa yang akan merawat bakal tumbuhan tersebut, siapa yang akan
mengairinya, dan meskipun akan berbuah, siapa yang akan memetik hasilnya?
Padahal kiamat akan terjadi. Hadist ini berisi penghormatan terhadap perbuatan
atau tindakan bekerja (menanam).
Mari kita
kupas poin-poin mendalam yang dapat kita petik dari hadist ini, antara lain:
1.
Dorongan
kepada seorang muslim untuk mengunakan momentum sampai titik darah penghabisan
dalam hidupnya untuk bekerja dan beramal shaleh.
2.
Seorang
muslim tidak boleh berhenti bekerja dan berbuat kebajikan sampai akhir
hajatnya.
3.
Seorang
muslim harus bergerak, berkarya, produktif dan bernilai guna tinggi bagi diri
dan masyarakatnya.
4.
Seorang
muslim harus benar-benar memperhatikan waktunya dan mengisinya untuk bekerja
dan beramal kebajikan.
5.
Seorang
muslim harus selalu memancarkan aura positif, berikap optimis dan penuh
cita-cita.
6.
Agama kita
menyuru untuk bekerja keras, membanting tulang, dan berusaha untuk menggapai
tangga-tangga keberhasilan, dan melarang kita untuk berleha-leha, bersikap lemah
dan malas.
Bekerja untuk
kepentingan dunia merupakan tuntutan agama, sebagaimana bekerja untuk
kepentingan akherat. Hal yang paling penting ialah ketepatan niat dan tujuan.
Sabda Nabi, Saw.
إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى
“Sesungguhnya
setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang
(akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan.” (Muttafaq
'Alaih)
Islam yang
kita senandungkan adalah “Islam yang mengindahkan kegiatan pembangunan, bekerja
dan berkarya unggul. Bukan islam yang terlena dengan pertikaian dan perdebatan
yang tiada henti. Karena sesungguhnya jika Allah menghendaki kejelekan kepada
sebuah bangsa atau kaum, maka Allah sibukkan bangsa atau kaum tersebut dengan
perdebatan yang tiada henti dan menghalangi mereka dari bekerja dan berkarya
unggul.
Mengutip
perkataan Prof. Dr. Yusuf Al-Qardhawi:
ﻟﻴﺲ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻋﻤﻞ ﺣﻘﻴﺮ .. ﻓﺎﻋﻤﻞ ﺃﻱَّ ﻋﻤﻞ
ﻣﺒﺎﺡ، ﻭﻻ ﺗﻜﻦ ﻋﺎﻟﺔ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮﻙ
Artinya
: “Dalam islam tidak ada pekerjaan yang hina. Bekerjalah apa saja yang
diperbolehkan (dalam islam), dan jangan jadikan dirimu bergantung pada orang
lain.”
Wa Allāhu
A'lam wa A'lā.
[1]
Disampaikan pada kajian Islam di RS. Gigi dan Mulut Soelastri Kota Surakarta pada
hari Sabtu (2/1/2021) pagi.

Social Header