Oleh Xs. Budi S. Tanuwibowo*
Rabu, 10 Februari 2021 | 17:12
![]() |
| Xs. Budi S. Tanuwibowo, Ketua Umum Dewan Rohaniwan/ Pengurus Pusat "Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia" (MATAKIN) |
Perantara-Nasional.Com, – Tahun Baru Imlek 2572
Kongzili (anno Khonghucu) jatuh bertepatan dengan tanggal 12 Februari 2021
Masehi. Bagi masyarakat Indonesia, inilah Imlek pertama sejak kasus Covid -19
diumumkan pertama kalinya oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 02 Maret 2020.
Saat Imlek 2571 Kongzili yang bertepatan dengan 25 Januari 2020 tahun lalu,
Indonesia belum terdampak Covid-19, meski wilayah Tiongkok dalam hal ini Wuhan,
sudah diserang pandemi secara masif. Saat itu perayaan Imlek praktis dalam kondisi
prihatin di Tiongkok. Sementara di banyak negara lain termasuk Indonesia, masih
dirayakan meriah seperti biasanya.
Namun suasananya kini berbeda. Perayaan Imlek di Indonesia
tahun ini dalam suasana prihatin. Saat ini pergerakan pandemi di negara kita
masih terus menaik, tanpa bisa diperkirakan secara akurat kapan akan mulai
menurun. Bahkan angkanya dari hari ke hari naik secara signifikan, dengan
pertambahan yang semakin membesar. Ketika tulisan ini dibuat, angkanya
berkecenderungan menuju satu juta kasus terpapar.
Melihat kenyataan ini kita semua harus bersikap bijak. Kita
harus mengurangi aktivitas perayaan dan atau ritual Imlek sampai ke batas
minimum. Pengalaman mengajarkan, setiap ada hari raya atau hari libur selalu
diikuti dengan lonjakan kasus Covid -19. Mengulangi perilaku yang sama, bukan
saja merupakan tindakan ceroboh, tetapi juga nekad, bodoh, dan berbahaya,
karena bisa saja akan mengantar kita pada maut dan kehancuran. Untuk itu kita
semua dituntut bersikap arif, bijaksana, dan pandai mengendalikan diri sendiri
dan keluarga. Imlek sendiri hakikatnya bukan merupakan pesta hura-hura tanpa
batas. Imlek sejatinya adalah refleksi diri, tanda syukur atas karunia Tian
-Tuhan Yang Maha Esa, berupa datangnya musim semi. Musim yang pada waktu lalu
merupakan berkah luarbiasa dalam masyarakat yang sebagian besar hidupnya
ditopang dari kegiatan bercocok-tanam. Ada aroma kegembiraan memang, tapi tak
lebih dari kegembiraan mendapat harapan baru, yaitu kesempatan baru untuk mulai
bercocok-tanam, bekerja keras mewujudkan harapan. Ketika sebagian besar manusia
beralih dari pertanian ke sektor lainnya, kegembiraannya tetap ada - bahkan
meningkat, namun semangatnya justru malah memudar. Akibatnya yang muncul
acapkali adalah kegembiraan berlebihan. Sementara etos dan semangat kerjanya
malah semakin memudar. Imlek menjadi lebih bergeser pada aktivitas pesta-pora.
Dan pesta-pora di masa pandemi bisa berarti pesta menuju malapetaka. Sebuah
kebodohan yang harus dicegah.
Ada hal penting yang harus selalu diingat dalam setiap momen
Imlek. Di samping melakukan sujud syukur ke hadirat Tian, Tuhan Yang Maha Esa,
sungkem memberi hormat kepada orangtua dan para senior, menjaga kerukunan dan
silaturahmi, juga ada kewajiban menyantuni para kerabat dekat, sanak saudara dan
lingkungan yang berkekurangan, yang tidak bisa merayakan Imlek karena
keterbatasannya. Ini selaras dengan inti ajaran Khonghucu yang menekankan Satya
kepada Tuhan dan Tepasalira dengan sesama (Zhongsu). Bertepasalira bukan
sekedar saling menenggang menjaga perasaan, tapi terpanggil ikut merasakan dan
saling membantu atau peduli sesama.
Seminggu sebelum awal tahun baru Imlek, dikenal sebagai,
"Hari Persaudaraan" atau Jie Sie Siang Ang (dialek Hokian) atau Er Si
Sheng An (Mandarin). Di hari itu mereka yang lebih berkemampuan secara ekonomi
wajib menyantuni sesamanya yang perlu dibantu. Bisa dalam wujud pakaian, bahan
makanan, uang atau apa saja yang diperlukan. Intinya agar kegembiraan Imlek
bisa dirasakan bersama, terjalin sikap peduli dan ketat menjaga persahabatan
persaudaraan. Ini selaras dengan ajaran Khonghucu yang menekankan "Bila
diri sendiri ingin tegak (maju), bantulah orang lain tegak (maju)",
"Di empat penjuru lautan, semuanya bersaudara", dan "Harta benda
menghias rumah, Laku Bajik menghias diri".
Adalah sebuah kemustahilan kita bisa hidup bahagia damai
harmonis dalam kesejatian bila tidak ada kebersamaan. Tak mungkin kita nyaman
mendirikan bangunan megah di tengah kekumuhan. Dan tak mungkin merasa bahagia
di tengah isak tangis penderitaan. Maka adalah sebuah sikap yang arif bijaksana
dan simpatik bila dalam merayakan Hari Raya Tahun Baru Imlek 2572 kali ini kita
lebih menitikberatkan pada kepedulian terhadap sesama warga. Pandemi Covid -19
boleh mengikis kesehatan kita menjadi lebih rentan, tetapi yang tidak boleh
terjadi adalah mengikis hati nurani kita sebagai manusia. Manusia Junzi, insan
kamil, manusia yang beriman dan berbudi luhur, Tepasalira pada sesamanya!.
Semoga perayaan hari raya tahun baru Imlek 2572 Kongzili ini
bisa menjadi momen untuk memperkuat solidaritas sosial kita sebagai bangsa,
warga masyarakat dan keluarga. Keluarga Besar Bangsa Indonesia. Shanzai.
*Penulis adalah Ketua Umum Dewan Rohaniwan/ Pengurus
Pusat "Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia" (MATAKIN)

Social Header