Kamis, 13 Mei 2021 | 16:18
Oleh Muh. Thoriq Aziz
Perantara-Nasional.Com, Kota Surakarta – Kita umat Islam di Indonesia yang berjumlah kurang lebih 87,2 persen dari total populasi penduduk di tanah air harusnya bersukacita dengan perayaan keagamaan terbesarnya tahun ini, namun agresi militer dan pembunuhan terhadap Muslim Palestina oleh pasukan pendudukan Israel di bulan suci Ramadan tahun ini sungguh menyayat makna emotif Idul Fitri.
Sesungguh, masalah sulitnya lapangan pekerjaan, rendahnya gaji guru honorer, bencana alam yang berulang, dan dilema sosial ekonomi lainnya, tidak begitu mempengaruhi perayaan Idul Fitri di Indonesia di tahun-tahun terakhir ini.
Budaya Idul Fitri di negara ini direpresentasikan dengan saling tukar kunjungan keluarga, sehingga orang menerima kerabat dan tetangga, dan menyambut para keluarga dan pengunjung atau peziarah dengan menawarkan makanan rumah yang lezat, terutama hidangan roti, manisan, coklat dan makanan khas daerah masing-masing.
Siapapun bisa disambut pada hari raya ini dengan perayaan yang meriah dan bersahabat. Mereka yang berasal dari komunitas non muslim pun juga menikmati acara tersebut dengan tetangga Muslim mereka. Bahkan berkat hari raya Idul Fitri mereka yang non muslimpun ikut mendapatkan diskon dari toko-toko dan mall-mall besar serta mendapat THR. Perayaan hari raya Idul Fitri ini selalu menunjukkan rasa toleransi, kerukunan etnis dan multikulturalisme yang lazim di tanah air kita.
Malam Idul Fitri yang penuh keagungan dengan gema dan pekikan takbir yang menggelora menambah kegembiraan. Usai salat Idul Fitri, orang-orang saling berpelukan tanpa diskriminasi dan bertukar salam. Kemudian mereka terlebih dahulu mengunjungi orang-orang yang mereka cintai, mereka juga melakukan ziarah kubur keluarga mereka.
Kegembiraan dan keceriaan anak-anak sangat tampak jelas di hari raya ini. Banyak anak-anak mengenakan pakaian baru mereka di pagi hari dan berjalan-jalan sepanjang hari dengan kegembiraan yang luar biasa. Mereka juga mendapatkan uang fitrah yang menambah kegembiraan mereka.
Masyarakat Indonesia pada umumnya juga mendekorasi rumah mereka dengan dekorasi kertas warna-warni, bunga yang ditanam secara lokal, dan memutar lagu-lagu religi.
Namun, mayoritas Muslim yang berjumlah 87,2% dari populasi di Indonesia itu harus bersukacita pada perayaan keagamaan terbesarnya tahun ini secara berbeda karena pandemi dan pembunuhan Muslim Palestina oleh pasukan pendudukan Israel selama bulan suci Ramadhan.
Sejak awal agresi Israel terhadap Palestina puluhan tahun lalu, Indonesia telah memprotes pendudukan Zionis Israel. Indonesia konsisten mendukung hak-hak sah Muslim Palestina dan mengecam serangan Israel.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan, Kementerian Luar Negeri mengutuk keras serangan teroris dan kekerasan terhadap warga sipil tak berdosa di Palestina. Indonesia mendesak komunitas internasional untuk mengambil tindakan berkelanjutan untuk mengakhiri tindakan keji tersebut di mana pun dan kapan pun di dunia ini, termasuk Palestina.
Pada umumnya masyarakat Indonesia sangat terkejut dengan serangan Israel. Mereka sering menyaksikan demonstrasi besar-besaran dan bentuk protes lainnya terhadap tindakan keras dan brutal Israel di Wilayah Pendudukan Palestina.
Mari kita bicara tentang krisis kemanusiaan di Palestina, perjuangan kemanusiaan harus terus berlanjut. Jangan jadikan kompleksitas masalah Palestina sebagai alasan untuk tidak berbicara menentang kejahatan dan kolonial pemukim Israel yang secara masif memadamkan kemanusiaan. Mari lantunkan doa terbaik kita untuk bangsa Palestina. Di tengah perayaan hari fitri ini, secara emosional hati kita sedih dan tersayat-sayat oleh serangan brutal tentara Israel kepada bangsa Palestina. Allahul musta'aan.
Apa yang terjadi di Palestina saat ini merupakan kejahatan paling berbahaya dalam sejarah peradaban, permusuhan yang jelas sekali dihadapkan kepada bangsa Muslim dan kemanusiaan, serta pelecehan terhadap Al Aqsha sebagai tempat suci umat Islam. Maka sikap keberpihakan kepada bangsa Palestina merupakan wājib al-Muslim al-yaum, kewajiban Muslim terkini. Tugas umat Muslim dimana pun berada harus berpihak kepada Palestina. Berdiri untuk Palestina, berarti berdiri untuk kemanusiaan.
Sebuah kebenaran yang harus dicatat bahwa Yudaisme Zionis yang kita hadapi saat ini bukan saja menjadi ancaman bagi orang-orang Muslim atau Arab saja, tetapi lebih dari itu merupakan ancaman bagi seluruh dunia dan seluruh umat manusia dengan semangat intoleransi dan ide-ide destruktif yang dimilikinya, memusuhi semua agama, terutama agama samawi, serta memusuhi semua orang.
Al-Quds memiliki posisi yang istimewa di hati orang-orang Arab dan Muslim, karena ia adalah kiblat pertama dan salah satu tempat suci bagi umat Islam. Ia juga merupakan tempat lahir para Nabi dan Rasul, serta menjadi titik awal perjuangan dakwah untuk manusia agar menyembah Allah, Swt.
Al-Quds dalam kepercayaan orang-orang Islam, memiliki status agama yang mencolok. Umat Islam dari semua sekte, mazhab, dan orientasi pemikiran setuju akan hal ini, karena ini adalah konsensus seluruh umat dari ujung hingga ke ujung.
Tidaklah mengherankan bahwa semua Muslim mematuhi kewajiban untuk mempertahankan, melindungi Al-Quds dan kesuciannya, serta berjuang dengan sepenuh jiwa dan tenaga untuk untuk mengusir para penyerangnya. Al-Quds memiliki kesucian yang sangat berharga bagi umat Islam, ini mewakili pengertian dan kesadaran kaum Muslimin bahwa Al-Quds adalah kiblat pertama, tanah Isra dan Mi'raj, kota kemuliaan ke tiga, tanah nubuat dan keberkahan, serta tanah ribat dan jihad.
Al-Quds bukan untuk orang Palestina saja meski mereka berhak untuk itu, Al-Quds juga bukan hanya untuk orang Arab, tetapi Al-Quds adalah untuk setiap Muslim, terlepas dari lokasinya di timur atau di barat bumi, di utara atau selatan, baik penguasa atau rakyat biasa, terpelajar atau buta huruf, kaya atau miskin, pria atau wanita, masing-masing harus berjuang untuk mempertahankan dan membela AL-Quds menurut batas kemampuannya.
"Dan Katakanlah: Bekerjalah (berbuatlah) kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." [QS. At-Taubah Ayat 105].
Dampak dari blokade yang telah diberlakukan Israel terhadap Jalur Gaza mewariskan penderitaan yang luar biasa. Jutaan orang Palestina termasuk kalangan anak-anak dan lanjut usia harus menghadapi kerawanan pangan, obat-obatan, listrik dan air bersih di Gaza.
Bantuan yang mendesak untuk keluarga miskin dan anak yatim di Gaza, baik berupa makanan, minuman, bahan obat-obatan dan perbekalan lainnya sangat diperlukan untuk mereka melanjutkan perjuangan dan hidup yang layak seperti warga negara lainnya. Selain itu mereka juga membutuhkan bantuan kesehatan dan obat-obatan serta keperluan medis untuk kondisi geting akibat peperangan.
Nomor Rekening Dukungan Kemanusiaan Rakyat Palestina: Syariah Mandiri 7129 5596 88 a.n: Nusantara Palestina Center atau bisa hubungi langsung kantor pusat NPC Jakarta di Call Center: 021-8778 8187. Hp/Wa: 0811 99 444 96(NPC).
Aktivitas Sosial Kemanusiaan: www.npc.or.id/

Social Header