Breaking News

Resep Ikhlas Ala Dokter Soffin Arfian

Ditulis oleh Al-Faqār ilā Allāh Ta'ālā, Thoriq Aziz 

dr. H. Soffin Arfian, Sp. OG


Perantara-nasional.com, - Saya menulis tulisan ini sebagai bahan renungan, daya dan cipta pikir untuk kita bersama bahwa sesungguhnya kita sebagai hamba Allah, kaum mukminin, orang yang beriman harus selalu mampu menangkap pelajaran atau hikmah kapanpun dan dimanapun kita berada. Hikmah atau pelajaran yang akan saya uraikan ini merupakan petikan pelajaran atau oleh-oleh wejangan yang saya peroleh dari Dokter Soffin Arfian, seorang dokter yang sangat terhormat dan harum namanya.


Sering dalam berbagai forum dan kesempatan, saya mendengar beliau selalu memberikan wejangan-wejangan yang sangat berharga baik kepada sahabat-sahabat beliau, teman jamaah beliau di Masjid dan juga kepada pasien-pasien beliau tentang resep ikhlas yang sangat sederhana tetapi maknanya begitu mendalam.


Kata beliau resep ikhlas itu adalah "kerjakan lupakan." Ternyata setelah saya dalami, saya lakukan perenungan, membaca banyak buku dan berbagai referensi, muhasabah serta kontemplasi, saya mendapatkan ungkapan resep ikhlas "kerjakan lupakan" itu sejalan dengan teori Imam Al-Qusyari dalam kitabnya Ar-Risalah Al-Qusyairiyah, yang mana ia mengutip wejangan moral dari Dzunnun Al-Mishriyang wafat tahun 859 Hijriyah, seorang pakar fikih dan juga ahli hadis yang sangat tersohor dan ternama kelahiran Mesir, bahkan ia juga dikenal sebagai Mistikus atau seorang Sufi dan asketis atau seorang wali, waliyun min auliy ā’ill āh.


Kata Dzunnun Al-Mishri ada tiga karakter atau terdapat tiga tanda keikhlasan seseorang. Yang pertama adalah istiwā al madaḥ wa al żam minal 'āmmah, ketika seseorang itu menganggap pujian dan celaan sama saja, tidak ada bedanya. Kemudian yang nomor dua adalah wa nisyānu ru'yatil 'amal fil a'māl, seseorang itu melupakan pekerjaan baiknya kepada orang lain. Lantas yang ketiga adalah wa nisyānu inqiḍāi ṡawābil 'amal fil akhirah, ketika seseorang itu lupa akan hak amal baiknya berupa pahala di akhirat. Dikutip dari kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyah karya Abdul Karim bin Hawazan bin Abdul Malik al-Qusyari juz 2 halaman 360.


Nah resep ikhlas "kerjakan lupakan" ini, dalam bahasa Arab adalah wa nisyānu ru'yatil 'amal fil a'māl, amal yang bisa dikatakan ikhlas ialah ketika seseorang itu mampu melupakan pekerjaan atau amal baiknya kepada orang lain sehingga dia tidak lagi menyebut-nyebut kebaikan yang telah dia kerjakan kepada orang lain, dia juga tidak berbangga diri dengan apa yang telah ia torehkan berupa amal saleh, amal baik kepada orang lain.


Dokter Soffin seringkali menyampaikan di berbagai kesempatan, baik di klinik, di tempat maidatur raḥmān, tempat yang biasanya para jamaah menyantap hidangan makanan yang disajikan oleh takmir Masjid usai kajian selesai, di channel Youtube beliau maupun di rumah beliau, tentang resep ikhlas yang sederhana ini namun maknanya amat sangat mendalam, bahwa orang ikhlas itu tubuh dan hatinya sangat ringan sekali sehingga saat dia beramal dia tidak merasa sudah beramal, tapi terus saja beramal saleh tanpa mengenal lelah, tanpa harus mengingat-ingat, menimbang-nimbang, mengenang dan mencatat amal pekerjaannya. Orang ikhlas itu memang tidak menargetkan apa-apa dari amal yang telah ia hadirkan, melainkan hanya untuk mencapai keridaan Allah semata.


Sebab terbesar kita sebagai seorang hamba Allah untuk mencapai keikhlasan itu salah satunya adalah dengan cara melupakan apa yang telah kita kerjakan, melupakan ru'yatul khalqi, tidak tersilaukan dengan penglihatan mata manusia, dimana penilaian manusia itu sama sekali tidak ada bobotnya saat kita berinteraksi dengan Allah SWT dan kita hanya bersemangat dan giat mencari rida Allah SWT tanpa melihat pujian atau celaan orang lain kepada kita.


"Kerjakan lupakan" ini, juga mengandung makna ikhfāul 'amal, menyembunyikan amal pekerjaan atau amal saleh kita. Berusaha sekuat tenaga kita agar amalan yang kita kerjakan itu memang hanya kita dan Allah saja yang tahu, sehingga kalau ini sampai terjadi pada diri kita maka kita semakin dekat dengan makna keikhlasan. Itu sebabnya, kita bisa membaca dan menemukan banyak para pendahulu kita, para salafus-saleh menyembunyikan perbuatan mereka dari penglihatan orang-orang, dari penglihatan manusia karena takut riya atau takut pamer, mukhāfatan li Ar-Riyā'. Bahkan salah satu dari para salaf itu masuk ke kamar tidurnya kemudian pura-pura tidur untuk mengelabuhi istrinya. Saat istrinya sudah tertidur, maka dia bangun dan mengerjakan salat. Sampai segitunya salaf dalam menyembunyikan amal perbuatan baiknya itu dari penglihatan manusia, karena memang semakin kita berusaha untuk menyembunyikan amal saleh kita, dan hanya kita dan Allah saja yang tahu maka kita lebih dekat kepada keikhlasan yang hakiki.


Memang sesungguhnya ikhlas itu tidak semudah ucapan lisan. Ikhlas itu butuh mujāhadah, perjuangan yang tidak sedikit. Resep ikhlas wariskan Dokter Soffin ini, mari kita laksanakan, "kerjakan lupakan." Mari kita amalkan dalam setiap amal saleh kita sehingga kita selamat dari perbudakan hawa nafsu, perbudakan materi, penghambaan terhadap dunia, dan penghambaan kepada amal saleh kita sendiri karena kita sering mengingat-ingat amal kita. Dengan begitu kita bisa memupus kesenangan hawa nafsu, kita bisa terjauhkan dari ketamakan dan keserakahan terhadap dunia, dan pada akhirnya hati kita hanya berisi kecintaan pada akhirat, kecintaan kepada Allah dan RasulNya di dalam menjalankan setiap amal saleh dan proyek kebaikan sehari-hari. Wa Allāhu a’lam wa a’lā.

 

© Copyright 2022 - Berinteraksi dalam Keberagaman