Oleh Thoriq Aziz [Praktisi Studi Islam dan Arab, Dai Solo Raya]
Perantara-Nasional.Com, – Setiap kita memiliki kemampuan
yang berbeda dengan orang lain. Tak perlu menjadi yang terkaya, terkenal dan
terhebat. Tetapi dalam hidup ini, seorang muslim dituntut agar menjadi selalu
bermanfaat untuk sesama. Mari kita mengaktualkan perintah agama untuk menjadi
yang bermafaat kepada sesama. Mulai sekarang kita bina jiwa dan kepribadian
kita untuk menjadi pribadi yang bermanfaat, syukur-syukur menjadi pribadi yang
menginspirasi orang lain dalam kebaikan dan ketaatan.
Manjadi pribadi yang bermanfaat
salah satunya dapat diwujudkan dengan cara menjadi orang yang gemar memberi.
Masih ingatkah kita, di pinggir
jalan ada anak-anak kecil meminta-minta atau ngamen? Masih ingatkah kita, di
pojok-pojok jalan besar, ada ibu-ibu tua renta tak beralaskan kaki, hidup
sebatang kara tak punya daya dan tak punya apa-apa? Masih ingatkah kita, dengan
anak-anak di Palestina yang tanpa dosa sudah kehilangan orang tua mereka
sehingga mereka menjadi yatim? Masih ingatkah kita, dengan tetangga kita yang
terlilit hutang hingga sakit-sakitan dan menderita?
Sungguh sangat terasa mendamaikan
saat kita dapat membantu dan berbagi kepada anak anak- yang meminta-minta dan
para ibu-ibu tua renta di pinggir jalan. Sungguh terasa sangat indah saat kita
dapat meringankan beban hutang saudara kita. Dan sungguh terasa sangat mulia
saat kita dapat membantu saudara-saudara kita di Palestina yang mengalami
penjajahan.
Allah Ta’ala berfirman:
وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan perbuatlah kebajikan, supaya
kamu mendapat kemenangan.” [QS. Al Hajj: 77].
Tindakan memberi kepada sesama
adalah ibadah kepada Allah dan mencerminkan rasa syukur kita kepadaNya atas
nikmat-nikmat yang Dia berikan kepada kita. Nabi kita sendiri, Muhammad SAW
telah memberi contoh permodelan yang paling indah dalam memberi, beliau
memberikan segalanya, memberi dengan cara yang paling baik dan tidak ada yang
tersisa di tangannya atau dari dirinya sendiri.
Betapa indahnya seorang muslim
yang berlaku memberi, mencintai dan menebar kebaikan kepada orang lain, memberi
dengan tulus tidak dibatasi oleh batas apa pun, juga tidak dibatasi oleh suatu
kondisi apapun, memberi kepada orang yang kita cintai dan orang yang tidak kita
cintai.
Pribadi yang gemar memberi adalah
pribadi yang tidak mengenal kekikiran, kebakhilan dan kebencian. Jika kita
berlaku dermawan dan memberi sesuatu kepada orang lain, kita akan memenangkan
dua kali lipat dari apa yang kita berikan.
Pemberian kita akan membawa
harapan dan kegembiraan bagi hati yang sakit dan berduka dari anak yatim yang
kehilangan kelembutan bapak. Pemberian kita akan membawa perasaan aman dan
damai untuk janda yang kehilangan suaminya. Pemberian kita akan membawa angin
segar, keceriaan dan senyum kepada orang-otang yang terlilit hutang. Dengan memberi,
berarti kita telah mempromosikan budaya cinta, kasih sayang, dan belas kasih.
Pintu memberi itu lebar, meliputi
memberi maaf kepada orang yang menzalimi dan menyakiti kita, menyambung tali
silaturahmi dengan orang yang memutuskan hubungan dengan kita, mengundang makan
kaum muslimin dan non-muslim, menerima uzur orang yang lain, dan menyerahkan
sebagian dari hak kita juga merupakan tindakan memberi.
Memberi juga meliputi tindakan
menyumbang ide yang berguna dalam pekerjaan dan masyarakat, menyumbang uang dan
berbagi penyetahuan informasi serta pengalaman. Meberi dapat dilakukan oleh
setiap orang. Memberi itu sangat mudah dan sederhana. Senyuman, kunjungan
silaturahmi, kata-kata yang sopan dan indah, doa, infak, dan membelikan obat
untuk orang sakit merupakan tindakan memberi. Mengapa kita tidak berani
memberi? Mengapa kita tidak belajar memberi dan memadamkan rasa bakhil, kikir
dan kebencian dalam diri kita?
Dengan kejernihan jiwa, kita tahu
bahwa hidup itu memiliki makna dan interaksi kita dengan orang lain itu
memiliki rasa, dan perasaan memiliki jiwa.
Tidak ada seorang pun dari kita
yang tidak mampu memberi. Semua kita mampu memberi. Dengan bersikap bakhil,
kikir dan membenci, meninggalkan memberi, sejatinya kita malah membekukan
gerakan tubuh kita, menghancurkan diri sendiri dan menghancurkan kemampuan
kita, serta mendorong kita untuk selalu menderita, bahkan menjadikan kita
seperti mayat.
Okey, masing-masing dari kita
mampu memberi, berinteraksi dengan orang lain dengan kata dan perbuatan yang
baik. Dan sementinya bagi kita sebagai seorang muslim, haruslah menghilangkan
dari diri kita hambatan-hambatan untuk memberi, hambatan yang paling menonjol
seperti yang Rasulullah SAW jelaskan adalah sifat lemah dan malas.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ
الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ
"Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari
ketakutan."
Rasulullah SAW bersabda:
وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
"Mohonlah pertolongan kepada
Allah, dan jangan menjadi lemah." [HR. Muslim].
Sifat lemah itu dapat
mentidakberdayakan diri kita dan melemahkan kekuatan kita, menghancurkan
semangat, dan menghilangkan keinginan untuk memberi. Sifat lemah membuat kita
kehilangan sebagian besar jiwa kita dan membelengku kita dalam sebuah tirani
ketidakberdayaan.
Sifat lemah dan ketidakmampuan
akan membuat orang menjadi frustasi dan menjalani hidup mereka dalam keegoisan,
kelangkaan jiwa, tekad yang lemah, bahkan membawa pada kemiskinan.
Ketika kita memberi, maka Allah
menetap dalam hati kita, kesenangannya akan segera lahir dalam diri kita.
Memberi memiliki kesenangan khusus yang melebihi kesenangan penerima daripada
apa yang dia terima. Mau hidup senang, tenteram dan akan, mari budayakan
memberi. Jangan takut untuk memberi, jadilah salah satu pelopor dalam memberi.
هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ
"Tidak ada balasan kebaikan
kecuali kebaikan (pula)." [QS. Ar-Rahman Ayat 60].
Social Header