Oleh Thoriq Aziz
Perantara-Nasional.Com, - Akhir tahun 2022 merupakan waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri. Refleksi diri ini dapat membantu kita untuk menilai kembali apa yang telah kita lakukan dan bagaimana kita mencapai tujuan kita di tahun ini. Refleksi ini juga dapat membantu kita untuk menentukan langkah selanjutnya dan membuat rencana untuk masa depan.
Akhir
tahun adalah waktu yang penting untuk mengingat atau merenungkan semua yang
telah berlalu. Refleksi diri menjadi penting karena menjadi bahan evaluasi diri
kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik di tahun mendatang.
Dalam Islam, refleksi diri adalah
salah satu cara untuk meningkatkan kehidupan spiritual kita. Refleksi diri ini
membantu kita untuk menyadari kesalahan kita dan mencari cara untuk
memperbaikinya. Refleksi diri ini juga dapat membantu kita untuk menghargai
kesuksesan dan keberhasilan kita di tahun ini. Dengan cara ini, kita dapat
mengembangkan kebiasaan yang positif untuk mencapai tujuan kita.
Refleksi diri juga dapat membantu
kita untuk meningkatkan keyakinan kita pada Allah. Kita dapat mengingat bahwa
Allah telah memberikan kita peluang untuk memperbaiki kesalahan kita dan
meningkatkan kehidupan spiritual kita. Kita juga dapat mengingat bahwa Allah
telah memberikan kita hidayah dan petunjuk untuk mencapai kesuksesan di tahun
ini.
Selain itu, refleksi akhir tahun
juga dapat membantu kita untuk memperkuat ikatan kita dengan Allah. Kita dapat
menggunakan waktu ini untuk meningkatkan ibadah kita dan melakukan taubat.
Dengan cara ini, kita dapat meningkatkan komunikasi kita dengan Allah dan
memperkuat hubungan kita dengan-Nya. Kita juga dapat meminta ampunan Allah
untuk kesalahan kita dan berusaha untuk menjadi lebih baik.
Ini adalam momen untuk memantau
kemajuan kita dan menyusun rencana untuk masa depan. Dengan refleksi diri ini,
kita dapat meningkatkan kehidupan spiritual kita dan berusaha untuk menjadi
lebih baik lagi. Kita juga dapat meningkatkan komunikasi kita dengan Allah dan
memperkuat ikatan kita dengan-Nya.
Dalam bahasa agama refleksi adalah muhasabah. Dari kata ha-si-ba yang berarti menghitung. Jadi muhasabah adalah perhitungan kebaikan dan kejelekan yang pernah terjadi pada masa lalu.
Dalam sebuah riwayat disebutkan
sahabat Umar bin Khaththab ra berkata:
حاسبوا
أنفسكم قبل أن تـحـاسـبـوا
"Hendaklah
kalian menghisab diri sebelum kalian dihisab (oleh Allah subhanahu wa
ta'ala)." (HR
At-Tirmidzi-Ahmad).
Allah berfirman dalam al-Quran
surat al-Hasyr: 18
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ
وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan."
Tentu saja, kita membuat banyak
kesalahan dan dosa dalam hidup, disadari atau tidak. Warna-warni kehidupan
telah membius kita sehingga kita mudah terjebak dengan kehidupan dunia dan
melalaikan akherat. Sebagai seorang Mukmin, sudah menjadi semestinya tujuan
kita adalah akherat. Sementara kehidupan akherat itu tergantung bagaimana cara
kita hidup di dunia, banyak beribadahkah atau berfoya-foya mengumbar hawa
nafsu? Tamkan itu!
Ayat 18 surat Al-Hasyr di atas
menggambarkan urgensi muhasaba (evaluasi atau introspeksi diri) selama hidup di
dunia ini. Karena hidup di dunia adalah rangkaian rencana dan misi besar
seorang hamba dalam meraih keridaan Tuhannya. Dan untuk memenuhi misi tersebut,
harus ada tujuan (ghayah), perencanaan (ahdaf), strategi (takhtith),
implementasi (tatbiq) serta evaluasi (muhasabah). Rasulullah mengaitkan
evaluasi dengan kesuksesan, sedangkan kegagalan dengan mengikuti hawa nafsu dan
banyak angan.
Seorang muslim tidak seharusnya
hanya berwawasan sempit dan terbatas, sekedar pemenuhan keinginan untuk jangka
waktu sesaat. Seorang muslim harus
memiliki visi jangka panjang untuk kehidupan yang baik di dunia dan akhirat.
Visi ini harus didasari oleh ajaran Islam, yang menekankan pada keadilan,
kesejahteraan dan keberkahan. Dengan memahami tuntunan agama dan
kebijaksanaannya, seorang muslim harus berusaha untuk mengadopsi pola hidup
yang sesuai dengan nilai-nilai agama.
Muhasabah atau evaluasi atau
refleksi atas visi inilah yang digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai kunci
pertama dari kesuksesan. Rasulullah SAW menekankan agar kita senantiasa
mengevaluasi visi kita secara terus menerus. Evaluasi ini penting untuk
memastikan bahwa tujuan kita tetap fokus dan kita tidak keluar jalur agama. Ini
juga membantu kita untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang mungkin
ada di jalan kita menuju tujuan kita. Mengevaluasi visi kita juga membantu kita
untuk mengukur tingkat keberhasilan kita dalam mencapai tujuan hidup kita.
Orang yang pandai senantiasa melakukan
evaluasi terhadap amalnya, Islam mengajarkan untuk senantiasa mengevaluasi
amal-amal ibadah yang dilakukan. Islam menekankan pentingnya evaluasi atas
segala amal yang dilakukan agar dapat memperbaiki kualitas amal kita.
Islam menyatakan bahwa kita harus
senantiasa berusaha untuk meningkatkan kualitas amal kita dengan menggunakan
ukuran-ukuran yang telah ditentukan oleh Allah. Dengan evaluasi yang dilakukan,
kita akan mengetahui apakah amal yang kita lakukan sudah cukup baik atau belum.
Dengan evaluasi tersebut, kita akan dapat melihat apakah ibadah kita sudah
cukup sesuai dengan tuntunan agama atau belum.
Evaluasi yang dilakukan juga akan
memungkinkan kita untuk memperbaiki amal kita jika ternyata amal kita masih
kurang baik. Hal ini akan membantu kita untuk mengikuti tuntunan agama dan
berbuat amal yang benar. Dengan demikian, evaluasi akan menjadi alat yang
penting bagi setiap muslim untuk meningkatkan kualitas amal mereka.
Terdapat beberapa aspek yang perlu
muhasabah /dintrodpeksi oleh setiap muslim, agar ia menjadi orang yang sukses:
1. Keimanan: Keimanan yang kuat
adalah dasar untuk mencapai sukses dalam kehidupan. Kekuatan iman mendorong
seseorang untuk berusaha keras dan mencapai tujuannya.
2. Ketaatan: Seorang muslim harus
taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan kepada Allah bukan hanya membuat
orang menjadi sukses di dunia, tetapi juga akan membuatnya sukses di akhirat.
3. Pemahaman: Pemahaman akan agama
Islam adalah salah satu kunci menuju kesuksesan. Pemahaman ini akan membantu
seseorang dalam menjalankan hidupnya sesuai dengan ajaran Islam dan menjadi
contoh yang baik bagi orang lain.
4. Kepribadian: Kepribadian yang
baik adalah syarat untuk menjadi orang sukses. Seseorang harus memiliki sikap
positif, menghormati orang lain, serta menjaga kehormatan dirinya sendiri.
5. Kejujuran: Kejujuran adalah
jalan menuju kesuksesan yang berkelanjutan. Seseorang harus selalu berusaha
untuk berlaku jujur dalam setiap aspek kehidupannya.
6. Kerja keras: Kerja keras adalah
kunci kesuksesan. Seseorang harus selalu berusaha untuk berusaha keras dan
belajar dari kesalahan-kesalahan yang ia lakukan.
7. Kebijaksanaan: Kebijaksanaan
adalah kunci untuk menuju keberhasilan. Seseorang harus dapat membuat keputusan
yang tepat dan bijaksana untuk mencapai tujuannya.
Akhir tahun adalah saat yang tepat
untuk merenungi nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada kita. Dalam hal
ini marilah kita berfikir positif dan menjadikan setiap pengalaman yang kita
lalui sebagai pelajaran berharga bagi kita. Kita juga dapat mengambil
kesempatan ini untuk menghidupkan kembali semangat iman dan takwa kita kepada
Allah SWT.
Ketika melakukan refleksi akhir
tahun, marilah kita bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah
diberikan pada kita. Bersyukur atas semua yang telah kita capai, serta berdoa
kepada Allah SWT agar dapat menjadi orang yang lebih baik pada tahun yang akan
datang.
Semoga dengan melakukan refleksi
akhir tahun ini, kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan dapat mendekatkan
diri kita kepada Allah SWT. Aamiin..

Social Header