Breaking News

Ramadan Boleh Pergi, Tapi Ketakwaan yang Diperoleh di Bulan Ramadan Harus Tetap Melekat dalam Diri

 Oleh Thoriq Aziz



Bulan Ramadan selalu dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Bulan yang penuh berkah ini menjadi momen spesial bagi umat Islam untuk mendapatkan keberkahan dari Allah SWT dan memperbanyak ibadah. Namun, setelah bulan Ramadan berakhir, seringkali banyak dari kita merasa sulit untuk mempertahankan keinginan untuk terus beribadah dan tetap memiliki semangat ketakwaan yang tinggi seperti ketika berada di bulan Ramadan.

Hal tersebut tidak seharusnya terjadi. Ramadan seharusnya menjadi peluang bagi kita untuk memperbaiki dan melatih ibadah dan memperkuat kualitas iman, bukan hanya selama bulan tersebut, tetapi juga setelah Ramadan berakhir.

Benar sekali, setelah bulan Ramadan selesai, kita seharusnya menjadi insan bertakwa yang lebih kuat. Kita telah melakukan banyak ibadah selama bulan Ramadan, seperti berpuasa, salat tarawih, membaca Al-Quran, dan bersedekah, yang semuanya bertujuan untuk memperkuat iman dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Namun, jika kita hanya melakukan ibadah tersebut selama bulan Ramadan saja, dan kemudian kembali ke kebiasaan lama setelah bulan Ramadan berakhir, maka ibadah tersebut tidak akan memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, kita harus memperjuangkan untuk mempertahankan ketakwaan dan memperbaiki kualitas ibadah kita setelah bulan Ramadan berakhir.

“Berjamaah dalam ibadah membantu memperkuat disiplin dan ketaatan kepada Allah SWT. Ketika seseorang bergabung dengan jamaah, ia harus mengikuti tata cara ibadah secara bersama-sama. Ini dapat membantu individu untuk lebih disiplin dan taat dalam menjalankan perintah Allah SWT.” Al Faqīr, Thoriq Aziz

Salah satu cara untuk mempertahankan ketakwaan setelah bulan Ramadan berakhir adalah dengan terus melaksanakan ibadah-ibadah sunnah seperti salat duha, salat tahajud, dan salat malam lainnya. Selain itu, kita juga bisa berusaha untuk membaca Al-Quran secara rutin setiap hari, mengikuti majelis ilmu, dan melakukan amal-amal kebajikan lainnya seperti bersedekah dan berbuat baik kepada sesama.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surah Al-Hujurat ayat 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Dalam ayat tersebut, Allah SWT menegaskan bahwa orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah orang yang paling bertakwa. Oleh karena itu, sebagai umat Muslim, kita harus berusaha untuk menjadi orang yang paling bertakwa, baik selama bulan Ramadan maupun setelah bulan Ramadan berakhir.

Dengan mempertahankan ketakwaan dan memperbaiki kualitas ibadah kita setelah bulan Ramadan berakhir, kita akan menjadi manusia yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan kehidupan. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kekuatan dan keistikamahan dalam menjaga ketakwaan setelah bulan Ramadan berakhir. Selain itu, kita juga harus terus memperdalam pengetahuan kita tentang agama Islam dengan belajar dan berdiskusi bersama para ulama dan orang-orang yang lebih berilmu.

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

"Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkan dia dalam agama." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadits tersebut, kita dapat memahami bahwa memperdalam pengetahuan agama merupakan salah satu cara untuk mendapatkan kebaikan dari Allah SWT. Oleh karena itu, kita harus berusaha untuk terus belajar dan memperdalam pengetahuan kita tentang agama Islam, sehingga kita dapat menjadi manusia yang lebih bertakwa dan lebih kuat imannya.

 

Selain itu, kita juga harus terus berdoa kepada Allah SWT agar Dia senantiasa memberikan kita kekuatan dan kesabaran dalam menjaga ketakwaan setelah bulan Ramadan berakhir. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 286:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Dan maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir." (QS. Al-Baqarah: 286)

Dengan melakukan hal-hal tersebut, semoga kita dapat menjaga ketakwaan yang diperoleh selama bulan Ramadan dan ketakwaan tersebut tetap melekat dalam diri kita, sehingga kita dapat terus menjadi manusia bertakwa yang lebih kuat imannya meski bulan Ramadan telah berakhir.

Kita juga harus ingat bahwa ketakwaan yang diperoleh selama bulan Ramadan tidak hanya berupa ketaatan dalam ibadah, namun juga dalam perilaku dan hubungan sosial kita. Oleh karena itu, kita harus terus memperbaiki diri dan memperbaiki hubungan dengan sesama, serta senantiasa menjaga amalan kita agar tetap sesuai dengan ajaran Islam.

Allah SWT mengajarkan bahwa sebagai manusia, kita diciptakan dengan berbagai suku dan bangsa agar kita dapat saling kenal mengenal. Namun, yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah orang yang paling bertaqwa di antara kita. Oleh karena itu, selain menjaga ibadah kita, kita juga harus senantiasa memperbaiki hubungan dengan sesama agar kita dapat menjadi manusia bertakwa yang lebih kuat imannya.

Penting bagi kita untuk memperhatikan dan menguatkan ketakwaan di dalam diri kita, sehingga kita bisa mempertahankan kualitas ibadah kita sepanjang tahun. Seperti yang Allah SWT jelaskan dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 197:


الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.

Ayat tersebut menjelaskan tentang pentingnya menguatkan ketakwaan dan memperbaiki kualitas ibadah selama bulan Ramadan, namun juga menunjukkan bahwa ibadah dan ketakwaan harus dipertahankan sepanjang tahun. Oleh karena itu, ketika bulan Ramadan telah berlalu, kita seharusnya tetap mempertahankan ibadah yang telah kita lakukan selama bulan Ramadan, seperti salat lima waktu, membaca Al-Quran, bersedekah, berpuasa sunnah, dan melakukan ibadah lainnya.

Sekali lagi, meskipun bulan Ramadan telah berakhir, kita seharusnya tetap berusaha untuk mempertahankan ketakwaan dalam diri kita dan memperbaiki kualitas ibadah kita. Dengan cara ini, kita bisa memperoleh keberkahan dan rahmat dari Allah SWT tidak hanya selama bulan Ramadan, tetapi juga sepanjang tahun. Semoga kita semua bisa menjadi hamba yang taat dan bertakwa kepada Allah SWT, aamiin.

© Copyright 2022 - Berinteraksi dalam Keberagaman