Breaking News

Menjadi Berilmu: Melampaui Batasan Gelar dan Ijazah

Oleh M. Thoriq Aziz


Perantara-Nasional.Com, Surakarta — Di era modern ini, banyak orang cenderung mengukur sejauh mana seseorang berilmu atau tidak berdasarkan banyaknya gelar dan ijazah yang dimilikinya. Namun, hakikatnya ilmu sejatinya tidak dapat diukur semata-mata dengan sejumlah kertas bergambar tanda pengakuan. Ijazah hanyalah sebuah pertanda bahwa seseorang pernah menempuh pendidikan formal di sebuah institusi. Pemahaman yang dalam, ketajaman olah pikir, nalar dan laku gerak tubuh, serta keterampilanlah yang sebenarnya menjadi ukuran pokok seseorang itu benar-benar berilmu atau tidak.


Ilmu sejati adalah hasil dari pemahaman mendalam atas suatu pengetahuan. Hal ini melibatkan interpretasi, pandangan kritis, dan pembacaan teoritis terhadap sesuatu. Maka, apa yang disebut sebagai ilmu tidak hanya bergantung pada banyaknya riwayat akademik atau non-akademik yang dimiliki oleh seseorang, melainkan lebih diukur melalui pemahaman yang mendalam dan ketajaman intelektualitasnya. Pemahaman dan ketajaman intelektualitas ini melibatkan keterampilan dalam menganalisis, menyintesis, dan menerapkan pengetahuan dengan cerdas.


Karena itulah, banyaknya gelar dan ijazah, riwayat akademik, atau sertifikat tidak menjadi tolok ukur seseorang yang benar-benar berilmu. Justru, pemahaman yang mendalam, ketajaman dalam berpikir, dan keterampilan intelektualitas yang dimiliki seseorang menjadi indikasi utama keberilmuannya. Seorang yang memiliki kemampuan untuk memahami suatu konsep dengan mendalam, mampu menganalisis dengan cerdas, dan memiliki keterampilan dalam menerapkan pengetahuan tersebut secara praktis adalah orang yang sejati berilmu.


Bahkan, dalam konteks agama, Al-Quran dan As-Sunnah memberikan penekanan terhadap ukuran kebaikan seseorang berdasarkan pada daya produktivitasnya, dengan menitikberatkan pada ketajaman pemahaman terhadap ilmu agama (bit-tafaqquh fiddiin, -red), bukan sekedar menuntut ilmu agama (ta’allumuddiin, -red) . Islam tidak hanya menuntut untuk mengumpulkan pengetahuan agama semata, melainkan juga menekankan pada pemahaman yang mendalam dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.


Dengan demikian, penting bagi kita untuk melampaui batasan gelar dan ijazah dalam memandang seseorang yang berilmu. Kita harus mendorong pengembangan pemahaman, ketajaman intelektualitas, dan keterampilan praktis sebagai indikator sejati keilmuan seseorang. Sebuah gelar atau ijazah hanyalah permulaan, tetapi kemampuan untuk memahami, menerapkan, dan mengembangkan pengetahuan adalah yang sebenarnya menandai seseorang sebagai seorang yang berilmu.


Dalam mengejar ilmu, baik itu dalam bidang akademik maupun di luar akademik, penting untuk memprioritaskan pemahaman yang mendalam. Tidak hanya sekedar mengumpulkan gelar-gelar dan ijazah-ijazah, tetapi lebih pada upaya untuk memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, dan mengembangkan keterampilan praktis yang relevan.


Selain itu, perlu diingat bahwa menjadi berilmu bukanlah tujuan akhir dalam diri seseorang, tetapi merupakan proses yang terus-menerus. Ilmu tidak pernah berhenti berkembang, dan sebagai individu yang berilmu, kita harus terus belajar, mengasah kemampuan kita, dan selalu terbuka terhadap pengetahuan baru.


Dalam masyarakat modern yang serba kompleks dan dinamis ini, kemampuan untuk beradaptasi dan menguasai pengetahuan yang relevan sangatlah penting. Tidak cukup hanya bergantung pada gelar-gelar dan ijazah-ijazah yang dimiliki, tetapi kita perlu melampaui batasan itu dan fokus pada pemahaman, ketajaman berpikir, dan keterampilan yang dapat memberikan kontribusi nyata dalam kehidupan dan masyarakat.


Dengan demikian, menjadi berilmu adalah tentang memperoleh pemahaman yang mendalam, mengembangkan keterampilan intelektualitas, dan mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Gelar dan ijazah hanyalah salah satu aspek dari perjalanan berilmu ini, namun yang sebenarnya penting adalah kemampuan untuk terus belajar, tumbuh, dan memberikan kontribusi nyata bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Top of Form

 

© Copyright 2022 - Berinteraksi dalam Keberagaman