Oleh Thoriq Aziz
Perantara-Nasional.Com, Surakarta - Pendidikan
merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan umat Islam. Sejak zaman
dahulu, para pelopor dan tokoh reformasi Islam telah menekankan perlunya
memprioritaskan pendidikan (at-tarbiyah, -red) di atas jihad. Mereka memahami
bahwa pendidikan adalah landasan yang kokoh untuk membangun masyarakat yang
kuat dan memberdayakan umat Islam secara menyeluruh serta utuh.
Pada masa awal penyebaran Islam, Nabi Muhammad SAW sendiri
memberikan perhatian besar terhadap pendidikan umatnya. Beliau menyadari bahwa
pendidikan yang kuat akan melahirkan generasi yang beriman, berakhlak mulia,
dan mampu menghadapi berbagai tantangan yang ada. Oleh karena itu, beliau
sering mengutamakan pendidikan dan tarbiyah dalam mendidik para sahabatnya.
Selain itu, para pelopor dan tokoh reformasi seperti Imam
al-Ghazali, Imam al-Bukhari, dan Ibnu Khaldun juga menekankan pentingnya
pendidikan dalam memperkuat umat Islam. Mereka menyadari bahwa jihad, baik dalam
arti fisik maupun intelektual, tidak dapat dilakukan dengan efektif tanpa
adanya dasar pengetahuan yang kuat. Oleh karena itu, mereka menyerukan agar
umat Islam memberikan prioritas pada pendidikan sebelum melibatkan diri dalam
perjuangan jihad.
Pendekatan pendidikan yang mereka anjurkan tidak hanya
sekadar mengejar ilmu pengetahuan formal, tetapi juga melibatkan pelatihan yang
mendalam dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Mereka berpandangan bahwa
pendidikan dan pelatihan ini bertujuan untuk membangun mukmin yang mampu
memikul beban dakwah dan biayanya. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya
sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, sikap, dan
nilai-nilai yang sesuai dengan ajaran Islam.
Pendekatan ini memiliki dua manfaat yang saling terkait.
Pertama, pendidikan yang kuat akan menghasilkan individu yang memiliki
pemahaman yang mendalam tentang Islam dan mampu menghadapi berbagai tantangan
dalam menyebarkan ajaran agama. Mereka akan menjadi duta-duta Islam yang mampu memberikan
penjelasan yang gamblang dan mendalam tentang keyakinan mereka. Kedua,
pendidikan juga merupakan wadah di mana nilai-nilai agama dan etika dakwah
dapat diwujudkan secara konkret. Dalam proses pendidikan, umat Islam dapat
melihat Islam hidup dan nyata, betul-betul nyata dan ada dalam kehidupan
sehari-hari, bukan hanya sebagai teori yang terpisah dari realitas.
Dalam pandangan para tokoh ini, jihad yang dilakukan tanpa
adanya pendidikan yang memadai dapat menjadi sia-sia atau bahkan membahayakan.
Tanpa pemahaman yang mendalam tentang ajaran Islam, jihad dapat disalahartikan
dan digunakan sebagai alasan untuk melakukan kekerasan atau menyebarkan ajaran
yang keliru. Oleh karena itu, pendidikan menjadi prioritas yang harus
diutamakan sebelum terlibat dalam perjuangan jihad. Pendidikan mempersiapkan
umat Islam dengan landasan pengetahuan yang kuat, pemahaman yang mendalam
tentang ajaran Islam, dan kemampuan berpikir kritis. Dengan demikian, mereka
akan menjadi pribadi yang siap untuk menghadapi berbagai tantangan dan
menjalankan tugas dakwah dengan baik.
Selain itu, pendidikan juga melibatkan pembangunan karakter
dan akhlak yang baik. Seorang muslim yang terdidik akan memiliki kesadaran
moral yang tinggi, serta mampu menjaga sikap dan perilaku yang sesuai dengan
ajaran agama. Mereka akan menjadi teladan yang hidup bagi orang lain,
menjadikan Islam sebagai agama yang menarik dan relevan dalam kehidupan
sehari-hari.
Model tarbiyah yang mengutamakan pendidikan dan pelatihan
ini telah terbukti efektif dalam sejarah Islam. Para tokoh reformasi seperti
Imam al-Ghazali melalui karyanya "Ihya Ulumuddin" atau Ibnu
Khaldun melalui "Muqaddimah" menyediakan landasan teoritis
bagi pendekatan ini. Mereka menggarisbawahi perlunya membangun fondasi keilmuan
dan moral yang kokoh sebelum terjun dalam aktivitas dakwah dan perjuangan.
Dalam konteks masyarakat modern, pendidikan yang
mengedepankan nilai-nilai agama dan etika dakwah dapat diimplementasikan
melalui berbagai lembaga pendidikan, seperti madrasah, pesantren, dan sekolah islam.
Selain itu, pendidikan informal seperti pengajian, kajian kitab, dan kursus
keislaman juga dapat menjadi sarana untuk membangun pengetahuan dan karakter
muslim yang kokoh.
Jadi dapat ditarik belang kesimpulannya, bahwa pendidikan
memiliki peran yang sangat penting dalam memperkuat umat Islam. Dalam Islam,
pendidikan bukan hanya tentang menambah pengetahuan, tetapi juga tentang
membangun karakter, moral, dan kepekaan terhadap nilai-nilai agama. Dengan
memiliki fondasi pendidikan yang kuat, umat Islam akan siap untuk menjalankan
perjuangan dakwah dengan baik, baik dalam konteks personal maupun sosial. Oleh
karena itu, pendidikan harus diutamakan sebelum terlibat dalam jihad, sehingga
umat Islam dapat menjadi teladan yang hidup bagi dunia dan mampu menyebarkan
Islam dengan cara yang damai, bijaksana, dan menginspirasi.

Social Header