Breaking News

Perang Pena Soal ANBK

Oleh Thoriq Aziz



Perantara-Nasional.Com,  Surakarta -  ANBK merupakan singkatan dari Asesmen Nasional Berbasis Komputer, yang tidak berperan sebagai penentu kelulusan siswa dan hasilnya tidak termasuk dalam penilaian akademis. Setelah menyelesaikan ujian ANBK, siswa tidak memperoleh nilai individual. Meskipun penting bagi sekolah, ANBK tidak memiliki dampak dalam meningkatkan nilai rapor siswa atau memberikan nilai tambah untuk masuk ke tingkat SMP atau SMA maupun perguruan tinggi melalui jalur prestasi.


Persiapan Sekolah dan ANBK


Seperti namanya, Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) memerlukan persiapan yang matang di sekolah. Setiap sekolah wajib memiliki minimal satu komputer proktor (host) serta 15 komputer client dengan spesifikasi sistem operasi Windows 7 ke atas, Linux, Chrome, atau Mac yang memiliki akses internet.


Contohnya, di SD tempat anak kami bersekolah, mereka telah meningkatkan kecepatan internet menjadi hingga 100 Mbps setelah melaksanakan gladi bersih ANBK pada 18 Oktober lalu. Langkah ini ditempuh untuk menghindari lag yang dapat terjadi saat 15 komputer digunakan secara bersamaan selama ujian ANBK berlangsung.


Namun, lebih dari sekadar koneksi internet yang cepat, faktor penting lainnya adalah ketersediaan ruang komputer. Memiliki internet yang handal tidak banyak artinya jika sekolah tidak memiliki ruang yang memadai. Bagaimana siswa dapat diharapkan menjalani ujian ANBK tanpa ruang khusus? Apakah mereka harus mengerjakannya di halaman sekolah di bawah tenda?


Pertanyaan lain yang muncul adalah bagaimana nasib sekolah di daerah terpencil yang tidak memiliki akses ke banyak komputer dan internet? Persoalan ini perlu dipertimbangkan.


Konsep ANBK dan Tantangan dalam Pendidikan


Saya masih merasa agak bingung. Walaupun ANBK ada untuk menilai seluruh tahapan pendidikan di Indonesia, sarana serta fasilitas pembelajaran masih beragam di antara berbagai sekolah.


Menurut informasi dari laman kemendikbud.go.id, Asesmen Nasional bertujuan untuk mengukur kualitas pendidikan di suatu sekolah. Standarnya diukur melalui Asesment Kompetensi Minimum (AKM) yang mengevaluasi tingkat penguasaan literasi membaca serta literasi matematika (numerasi) peserta didik.


Tidak hanya siswa yang mengikuti ujian, ANBK juga dipergunakan untuk menilai sikap, nilai-nilai, keyakinan, dan kebiasaan yang dimiliki oleh peserta didik dalam lingkungan sekolah. Aspek-aspek seperti input dan proses belajar mengajar yang terjadi di kelas dan di tingkat sekolah pun dinilai. Keseluruhan penilaian ini diintegrasikan dalam survei karakter dan survei lingkungan sekolah.


Persiapan Menuju AKM Literasi dan Numerasi


Untuk mencapai kemahiran dalam AKM Literasi dan AKM Numerasi, sekolah berupaya melatih siswa kelas 5, 8, dan 11 dalam menyelesaikan soal-soal sejenis ANBK, jauh sebelum pendaftaran ANBK diumumkan oleh Kemdikbud.


Oleh karena itu, dapat dianggap bahwa ANBK memiliki peran yang sangat penting bagi sekolah, karena hal ini mencerminkan kualitas pendidikan yang diberikan oleh sekolah tersebut. Skor akumulatif yang dihasilkan oleh sekolah akan mengidentifikasi bidang kompetensi yang perlu dipertahankan atau ditingkatkan. Ini bisa melibatkan kompetensi guru, kemampuan siswa, fasilitas sekolah, atau bahkan karakter guru dan siswa.


Siswa dan ANBK


Dalam ANBK, terpilih 30 peserta utama beserta 2 peserta cadangan dari siswa kelas 5, 8, dan 11 yang dipilih secara acak melalui sistem di Kemdikbud, bukan melalui seleksi oleh guru. Peserta cadangan berperan sebagai pengganti ketika peserta utama tidak dapat mengikuti ANBK pada hari pelaksanaan.


Ujian ANBK mengandung berbagai soal cerita yang harus dijawab oleh peserta. Soal-soal ini dirancang dalam bentuk naratif dengan tujuan untuk mengukur kemampuan berpikir logis siswa dalam AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) Literasi dan AKM Numerasi.


Karena itu, pengerjaan ANBK menjadi lebih mudah bagi siswa yang memiliki kebiasaan membaca berbagai jenis bahan bacaan seperti buku, majalah, dan berita online. Namun, bagi siswa yang jarang melibatkan diri dalam aktivitas membaca, menyelesaikan soal-soal cerita dalam ANBK menjadi tugas yang sulit. Kelompok ini cenderung merasa cepat bosan karena kemampuan berpikir mereka tidak terlatih untuk merumuskan jawaban secara perlahan.


Tidak hanya tentang otak yang lambat, tetapi juga terkait dengan kapasitas kognitif. Dr. Ahmad Susanto, M.Pd, seorang penulis yang mengulas Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar dalam blog Gramedia, menjelaskan bahwa membaca memiliki potensi untuk melatih daya kognitif anak-anak. Daya kognitif adalah proses berpikir yang memungkinkan individu untuk mengaitkan, menilai, dan mempertimbangkan berbagai kejadian atau situasi.


Tidak mengherankan jika sebagian besar peserta ANBK cenderung melakukan pengerjaan soal dengan cara yang kurang hati-hati, hanya dengan memilih jawaban yang tersedia tanpa melakukan bacaan yang teliti. Mereka merasa cepat jenuh karena kebiasaan otak mereka tidak terlatih dalam merangkai pemikiran dengan perlahan untuk membangun argumentasi logis saat memproses informasi, hal yang berbeda ketika kita sedang membaca buku.


Bahkan, beberapa siswa yang mengikuti ANBK di sekolah kami bahkan tidak mampu menyelesaikan semua soal saat sesi latihan karena waktu yang terbatas.


Rasa kurang minat anak-anak terhadap membaca dapat dimengerti. Semua peserta ANBK di tingkat SD hingga SMA termasuk dalam generasi Z dan generasi Alpha yang secara alami cenderung lebih tertarik pada konten TikTok, YouTube, dan permainan elektronik. Hal yang paling umum mereka baca selain materi pelajaran adalah pesan-pesan di WhatsApp.


Oleh karena itu, peran orangtua memiliki dampak besar dalam menentukan apakah anak akan menemukan kesenangan dalam kegiatan membaca.


Peran Orangtua dalam ANBK


Ketidakbiasaan anak terhadap membaca dan pengerjaan ANBK yang kurang hati-hati bisa diperburuk oleh pandangan orangtua yang menganggap bahwa ANBK tidak memiliki relevansi dengan kelulusan dan nilai akademis. Sehingga, ANBK cenderung diabaikan begitu saja.


Pemahaman semacam ini bisa dimaklumi, terutama berasal dari orangtua yang mungkin tidak memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi dan memiliki pandangan yang terbatas. Orangtua dengan pola pikir demikian mungkin masih percaya bahwa tanggung jawab pendidikan sepenuhnya terletak pada pundak guru, menganggap bahwa itu adalah tugas eksklusif mereka.


Sebenarnya, idealnya, dengan mendaftarkan anak ke sekolah, orangtua juga seharusnya menjadi bagian dari komunitas sekolah. Dengan demikian, mereka dapat turut bertanggung jawab untuk mengajarkan pemahaman bahwa walaupun ANBK tidak memengaruhi nilai akademis, tetap memiliki manfaat dalam melatih kemampuan berpikir dan penalaran.


Anak-anak juga memiliki peluang besar untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap materi pembelajaran melalui praktik ANBK, berbeda dengan kegiatan sehari-hari mereka yang sering hanya berkaitan dengan mengerjakan PR atau menghadapi ujian saja.


Siswa yang berperan sebagai peserta didik juga merupakan bagian integral dari komunitas sekolah. Mereka tidak hanya memiliki hak untuk menerima pengajaran, tetapi juga berkewajiban untuk mewakili sekolah dalam berbagai aktivitas, baik yang bersifat akademik maupun non-akademik. Termasuk dalam hal ini adalah partisipasi dalam ANBK dengan tekad untuk menyelesaikan semua tugas dengan serius, tanpa hanya bersikap sembarangan.


Partisipasi Warga Sekolah


Kualitas pendidikan di sekolah dapat ditingkatkan tanpa bergantung pada dukungan pemerintah, asalkan seluruh anggota komunitas sekolah bersatu padu dan melaksanakan tugas serta tanggung jawab mereka dengan seimbang.


Terlebih lagi, kompetensi para pendidik telah mengalami kemajuan yang signifikan melalui pelatihan profesional, termasuk program guru penggerak yang turut berperan.


Orangtua juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kompetensi mereka, seperti memberikan dukungan kepada anak-anak saat menghadapi kesulitan dalam pelajaran, memperkuat mental mereka saat menghadapi teman-teman yang kurang kooperatif, dan berkomunikasi dengan wali kelas tanpa ragu.


Guru-guru saat ini sangat bersemangat dalam menjawab pertanyaan dari orangtua. Bahkan, sekarang kita dapat mengikuti akun media sosial guru tanpa merasa canggung, karena kita tahu bahwa yang diikuti adalah sosok pendidik di sekolah anak-anak.

© Copyright 2022 - Berinteraksi dalam Keberagaman