Breaking News

Merenungkan Masa Depan Palestina

Oleh Thoriq Aziz


"Mempertimbangkan dampak serangan Hamas terhadap Israel dan akar konflik di Tepi Barat. Pendudukan Israel di wilayah tersebut menjadi latar belakang serangan. Sebagai bangsa Indonesia, apa yang dapat kita tawarkan sebagai solusi realistis?"

 



Perantara-Nasional.Com,  Surakarta  -   Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, menegaskan urgensi penyelesaian akar konflik Palestina-Israel dan perlunya semua pihak menghindari korban jiwa yang lebih besar. Namun, muncul pertanyaan tentang solusi nyata yang bisa kita ajukan untuk mengatasi isu pendudukan ini. Terdapat hubungan yang jelas antara serangan Hamas ke Israel dan pendudukan Israel di Tepi Barat, yang menjadi alasan utama serangan tersebut.


Namun, perlu dicatat bahwa serangan ini tidak semata-mata tindakan reaktif. Serangan ini tampak terencana dengan koordinasi internal yang kuat. Dalam konteks yang lebih luas, serangan ini juga memiliki tujuan politik yang lebih mendalam.


Setidaknya ada empat faktor yang mendasari serangan ini. Pertama, serangan ini bertujuan untuk memperlihatkan bahwa Hamas masih menjadi kekuatan bersenjata utama di Palestina. Penggunaan senjata yang lebih canggih juga mengindikasikan adanya dukungan eksternal yang kuat bagi Hamas. Ini adalah pencapaian yang tidak mudah, mengingat blokade Israel yang sulit ditembus.


Kedua, serangan ini mencerminkan perubahan opini mayoritas masyarakat Palestina. Survei menunjukkan bahwa dukungan terhadap penggunaan kekerasan dalam penyelesaian konflik dengan Israel telah meningkat. Pada September 2022, hanya 41 persen penduduk Palestina yang mendukung, tetapi pada September 2023, angka ini meningkat menjadi 53 persen.


Peningkatan ini terutama terjadi di Tepi Barat, di mana dukungan terhadap opsi bersenjata meningkat dari 35 persen menjadi 54 persen. Pernyataan dari juru bicara Hamas, Khaled Qodami, dan komandan militer, Mohammed Deif, mengindikasikan bahwa Hamas merasa yakin dengan pendekatan kekerasan mereka, yang semakin meningkatkan dukungan publik Palestina.


Ketiga, serangan ini mencerminkan kegagalan berbagai upaya menuju kemerdekaan Palestina yang telah dijalankan selama ini, terutama Proses Oslo. Selain dukungan publik yang semakin merosot, kehidupan sehari-hari rakyat Palestina juga semakin sulit dibandingkan sebelumnya, terutama akibat pembatasan yang diberlakukan oleh Israel.


Di sisi lain, upaya diplomasi multilateral, terutama melalui PBB, selalu terhambat oleh veto Amerika Serikat di Dewan Keamanan.


Keempat, serangan ini juga merupakan pesan kepada komunitas internasional bahwa isu Palestina harus tetap diperhatikan, terutama karena telah terlupakan dalam berbagai pembicaraan diplomatik. Normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan beberapa negara Arab, seperti yang terlihat dalam Abraham Accords dan diskusi panjang antara Arab Saudi, Israel, dan AS, meningkatkan kekhawatiran atas nasib kemerdekaan Palestina.


Otoritas Palestina bahkan menolak bantuan penanganan Covid-19 dari Uni Emirat Arab karena UEA adalah salah satu penandatangan Abraham Accords. Arab Saudi, yang mengusulkan Inisiatif Perdamaian Arab yang menolak perdamaian, pengakuan, dan perundingan dengan Israel sebelum Israel mundur dari Palestina, sekarang terlibat dalam normalisasi.


Dengan demikian, langkah-langkah Hamas memiliki dua tujuan politik utama. Pertama, untuk menegaskan bahwa mereka adalah kekuatan yang dapat diandalkan oleh publik Palestina dalam perlawanan terhadap Israel, meskipun ini juga harus dilihat dalam konteks persaingan antara faksi Palestina.


Kedua, serangan ini juga menciptakan tekanan terhadap pemecahan masalah Palestina. Namun, langkah ini juga membuka kemungkinan terburuk dalam hubungan Palestina-Israel. Koalisi sayap kanan-religius yang memerintah Israel dapat dengan mudah menggunakan serangan ini sebagai alasan untuk bertindak lebih keras, yang bisa mengakibatkan korban jiwa yang lebih besar dan melemahkan posisi otoritas Palestina dalam menghadapi Israel.


Jadi, apa yang dapat dilakukan Indonesia dalam konteks ini? Pertama, Indonesia harus tetap konsisten dalam mendukung kemerdekaan Palestina dan mengecam pendudukan Israel. Bantuan nyata telah diberikan melalui berbagai program pelatihan, meskipun tantangan internal di Palestina masih ada, seperti masalah korupsi dan ketidakpastian pembangunan sosial-ekonomi.


Namun, dalam hal dialog antara Palestina dan Israel, Indonesia memiliki keterbatasan karena tidak memiliki kontak langsung dengan Israel. Oleh karena itu, ruang lingkup tindakan Indonesia yang realistis adalah di tingkat internal Palestina, khususnya dalam memediasi dialog antara Hamas dan Fatah, dengan dukungan negara-negara yang memiliki pandangan serupa terhadap Palestina.


Kedua, untuk mencari solusi yang lebih baik dalam mengatasi isu Palestina yang kompleks, Indonesia perlu memberikan perhatian yang lebih dalam dan serius. Pembentukan tim atau utusan khusus untuk penyelesaian Palestina bisa menjadi langkah yang berguna. Dengan keterlibatan yang lebih mendalam, Indonesia dapat menjadi pemain kunci dalam upaya penyelesaian konflik ini. Saatnya kita memikirkan kembali masa depan Palestina dengan serius dan realistis.

 


© Copyright 2022 - Berinteraksi dalam Keberagaman