Perantara-Nasional.Com, Sragen – Nasya Hanum Pramesti, siswi kelas XI-1 Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Sragen, tampil mengesankan dalam membacakan puisi berjudul Senandung Duka, karya Ustaz Thoriq Aziz, S.Pd., Lc., M.Pd.
Puisi tersebut mengangkat tema yang begitu relevan tentang tantangan dalam
dunia pendidikan Indonesia, terutama mengenai isu bullying dan degradasi
nilai-nilai adab di kalangan pelajar.
Nasya yang lahir di Kebumen itu, dikenal di lingkungannya sebagai pribadi
yang humble dan mudah bergaul. Di sekolah, ia kerap menunjukkan bakatnya dalam bidang
sastra, terutama dalam seni membaca puisi. Kemampuannya dalam mengekspresikan
pesan-pesan puisi membuat penampilannya menjadi sangat menyentuh bagi para
pendengar. Nasya sendiri mengaku bahwa ia hobi membaca buku dan menyanyi, dua
hal yang membantunya dalam mengasah kepekaan dan kemampuan ekspresifnya dalam
berpuisi.
Senandung Duka karya Ustaz Thoriq Aziz yang dibacakan
Nasya adalah puisi yang penuh dengan kritik sosial terhadap fenomena bullying dan
degradasi moral dalam dunia pendidikan. Puisi ini menggambarkan suasana muram
di ruang-ruang belajar, di mana bullying terjadi tanpa jeda, dan nilai
kemanusiaan yang mulai terlupakan oleh guru maupun murid. Melalui bait-baitnya,
sang penyair mengajak masyarakat untuk melakukan refleksi, mempertanyakan arah
pendidikan yang mestinya menjunjung tinggi nilai dan adab.
Berikut adalah puisi yang dibacakan Nasya dengan penuh penghayatan:
Panggung Sandiwara
Karya Bapak Ustaz Thoriq Aziz, S.Pd., Lc.,
M.Pd.
November, bulan pilkada mulai tiba,
Aktor beraksi di panggung negara,
Tersenyum manis, bicara soal cita,
Di balik layar, sandiwara diputar sempurna.
Janji berhambur, harapan berderma,
Kata-kata melayang bagai angin surga,
Namun kenyataan sering berbeda,
Rakyat hanya menjadi penonton drama.
Kita duduk menyimak dalam tanda tanya,
Melihat janji diucap, entah nyata atau fana,
Sosok dermawan yang penuh gaya,
Namun di balik panggung, ia berubah rupa.
Mereka berlomba jadi pahlawan warga,
Melakoni peran sebagai sosok penuh asa,
Namun rakyat kini mulai peka,
Tak mudah percaya pada citra semata.
Maka kita jangan terbuai janji dan wacana,
Bersikap kritis, membaca dengan mata terbuka,
Pilkada bukan sekadar pesta kata,
Tapi penentu nasib bangsa kita.
Rakyatlah pemilik panggung sesungguhnya,
Yang harus bijak memilih siapa yang nyata,
Hanya pemimpin berjiwa tulus, penuh asa,
Demi masa depan bangsa yang mulia.
Surakarta, 30 Oktober 2024
Dalam penampilannya membacakan puisi, Nasya mampu membawakan setiap kata
dengan penuh emosi dan kesungguhan, sehingga pesan puisi ini terasa begitu
mendalam. Pendengar terhanyut dalam suasana yang dibangun Nasya lewat pembacaan
puisinya. Dalam tanyangan online di channel Youtube Media Perantara Nasional, penampilannya
seakan menjadi pengingat kuat akan pentingnya kembali ke nilai-nilai luhur
pendidikan yang beradab dan beretika.
Ketika diwawancarai setelah video penampilan baca puisi itu diunggah, Nasya
mengungkapkan bahwa ia merasa bangga dapat menyuarakan pesan penting yang
terkandung dalam Senandung Duka.
“Puisi ini sangat relevan dengan keadaan pendidikan kita saat ini,” ujarnya.
Ia berharap bahwa pembacaan puisi ini dapat menggugah hati semua pihak untuk
lebih peduli pada nasib dan masa depan anak-anak Indonesia.
Penampilan Nasya dalam membawakan Senandung Duka karya Ustaz Thoriq
Aziz tidak hanya menjadi ajang unjuk bakat, tetapi juga sebuah bentuk
kepedulian mendalam terhadap permasalahan sosial di dunia pendidikan.
Keberanian Nasya dalam menyuarakan kritik melalui karya sastra ini membuktikan
bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menyuarakan perubahan dan
keadilan.

Social Header